Our Facebook
Facebook

Yang Tertinggal

*Kalian Mau Mendengar Cerita Heroik?

Akan saya ceritakan kembali sebuah peristiwa heroik yang menakjubkan, kawan. Sebuah pengorbanan dari penduduk sebuah kota.

Alkisah, setelah pertempuran besar di belahan benua sana, musuh kembali ke kota itu dengan kekuatan penuh. Lebih besar, lebih menakutkan. Jenderal perang musuh, dengan congkak memerintahkan seluruh senjata di tangan penduduk agar diserahkan. Penduduk tentu menolak disuruh semena-mena, maka meletuslah perlawanan. Apa daya musuh lebih kuat. Mereka punya persenjataan berat, pesawat pengebom, tank, mortir, bukan tandingan penduduk kota yang hanya bermodal senapan ringan atau senjata tangan.

Musuh ganas sekali, mereka menghabisi semua perlawanan, kemudian akhirnya memberikan ultimatum agar kota dikosongkan. Mengusir penduduk. Gila, Kawan, itu benar-benar perintah menyakitkan. Dan penduduk kota harus melakukan apa? Mereka tidak bisa melawan, mereka terdesak, harus menerima kenyataan memilukan, diusir dari kota kelahiran mereka. Perintah pengosongan itu jahat dan zalim sekali. Tapi mau apa lagi? Melawan sama saja dengan mati? Anak2 tidak berdosa menjadi korban? Dihabisi? Bayangkan posisi kita yang benar2 terzalimi, tidak bisa melawan, kalah, hanya menatap lemah terhinakan.

Maka, malam itu, Kawan. Ratusan ribu penduduk kota tersebut memutuskan memberikan perlawanan terakhir, ratusan ribu penduduk kota memutuskan membakar rumah, harta benda mereka. Seluruh kota membara, asap hitam mengepul tinggi, lautan api menyergap kota. Setelah membakar kota, barisan panjang penduduk, orang tua, ibu2, anak2, mengungsi membentuk barisan yang mengular, mereka pergi ke lereng-lereng gunung, menjauh, sambil menatap tanah kelahiran mereka terbakar. Itu sungguh pertunjukan pengorbanan yang mengharukan. Itu gila. Mereka membakar rumah sendiri, bersedia melakukannya, agar kota tidak dikuasai musuh, dan menjadi markas musuh. Sementara pemuda2 gagah, dengan sisa tenaga terakhir, meledakkan gudang persenjataan, menghabisi apapun yang bisa dihabisi–meski ditukar dengan nyawa tersisa.

Apakah cerita heroik ini dalam legenda Yunani kuno? Tidak. Apakah cerita dahsyat ini ada dalam film2 aksi Hollywood? Juga tidak. Apakah cerita ini fiksi karangan? Tidak. Cerita ini dekat sekali. Itulah Bandung Lautan Api, tanggal 23 Maret 1946 (api mulai berkobar 23 Maret petang, dan terus menyala selama 24 jam, perintah membakar seharusnya dimulai dinihari 24 Maret 1946, tapi penduduk semangat sekali). Dari Cicadas hingga Cimindi, kota Bandung terbakar. Jika kalian sempat berkunjung ke kota ini, berdirilah di atas Bandung Utara atau Bandung Selatan, di lereng2 yang sekarang jadi tempat wisata, penuh dengan strawberry, FO atau tempat makan enak, maka sekarang bayangkanlah kota Bandung yg gemerlap oleh cahaya lampu, berubah menjadi merah, dibakar oleh penduduknya sendiri. Bayangkan asap hitam membuat gelap mata memandang.

Kita punya cerita heroik seperti ini, Kawan. Ketika ratusan ribu penduduk kota bersedia mengorbankan apapun yang mereka miliki demi kepentingan masa depan yang lebih baik. Bersedia menelan pil pahit, kehilangan harta benda, demi sesuatu yang lebih berharga. Yakin. Mantap.

Dan sekarang, kisah tersebut telah tertinggal puluhan tahun silam. Saya tidak tahu apakah orang2 masih ingat–bahkan boleh jadi tidak peduli. Tanyakanlah kepada kakek-nenek kita yang masih hidup, yang menjadi saksi mata kejadian tersebut, boleh jadi ceritanya lebih mengharukan lagi. Periode 1978 sampai 1986, setiap bulan Maret, di Bandung masih sering diadakan lomba gerak jalan. Puluhan ribu pesertanya, mereka berjalan kaki 45-50 kilometer mengenang peristiwa ini, mengelilingi kota Bandung, seperti dulu, penduduk berduyun2 meninggalkan kota. Sekarang tidak lagi. Bahkan lebih banyak yg tidak tahu apa itu Bandung Lautan Api.

Kita punya cerita heroik tersebut, Kawan. Ketika penduduk bersedia berkorban. Lantas pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita semua –terutama kelas menengah– bersedia berkorban hal yang sama demi masa depan, demi keputusan yang lebih bijak, demi kebaikan bersama? Atau jangan2, semua orang sibuk dengan kepentingan masing2, punya agenda masing2. Kita harus bersedia menelan pil pahit demi kebaikan bersama, bukan lari melindungi keinginan masing2.

Ahiya, sebagai tambahan, dua tentara pemuda kita, bernama Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, yang baru berusia 19-an tahun, tewas saat kejadian Bandung Lautan Api, mereka dengan gagah berani membawa granat, meledakkan gudang amunisi tentara sekutu. Mereka tewas bersama ledakan gudang amunisi tersebut. Usia mereka masih muda sekali, mereka jelas bukan Rambo, juga bukan James Bond, tapi sejarah akan mencatat keberaniannya–setidaknya page saya akan mencatatnya lagi. Hari ini, dua jalan di kota Bandung memakai namanya, tapi entahlah, apakah itu sepadan dengan pengorbanannya.

Kita bertemu lagi dengan tanggal 23 Maret. Mari sejenak mengenang kejadian tersebut. Jika kalian penduduk kota Bandung, atau besok2 mau datang ke Bandung, kuliah di Bandung, nyari jodoh di Bandung, ketahuilah sejarah ini.

By: Tere Liye (dgn perubahan seperlunya)

https://www.facebook.com/tereliyewriter/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *