10/10/2017

Generasi Patah Hati


Kata pepatah, "Sebodoh-bodohnya orang, usia akan tetap membuatnya lebih bijaksana."

Ah, jangankan memikirkan urusan umat dan bangsa, kita sudah terlalu lelah dengan urusan diri sendiri  yang tak kunjung selesai; kita terlalu sibuk dengan masalah pribadi yang tak akan pernah usai.

Kita kehilangan kepercayaan diri. Krisis identitas.
Beragama tapi tak menjalankannya.
Bertuhan tapi tak menjadikannya tujuan.
Berpotensi tapi sibuk dengan kesenangan diri.
Bertenaga tapi habis oleh hal-hal tiada berguna.

Kita ini siapa?
Kita ini mau kemana?
Kita ini akan jadi apa?
Pertanyaan pokok dalam hidup yang seharusnya telah tuntas dijawab menjelang dewasa.

Agar di usia matang kita lebih punya banyak waktu untuk menyempurnakan dan mengembangkan karya. Agar kita bisa lebih siap berdiri gagah ksatria saat panggilan sejarah tiba, saat nurani kemanusiaan menyapa.

Tidak ada masa depan cemerlang bagi umat dan bangsa yang generasi mudanya kerjaannya hardolin (Singkatan dari istilah bahasa Sunda: dahar, mod*l, ulin. Yang dalam bahasa Indonesia artinya: makan, buang air besar, dan main).

Kita memang generasi yang patah hati.
Terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini.
Tapi mengutuk keadaan tidak akan bisa merubah apapun.
Menyesal berkepanjangan tidak akan mengembalikan yang telah berlalu.

Kawan, jika kita tidak mampu mengukir sejarah hebat dan mencetak karya monumental seperti para pahlawan, setidaknya kita bisa memberi tahu generasi baru agar tidak jatuh pada jurang yang sama seperti generasi kita.

Mari memperbaiki diri di sisa waktu yang ada.
Mari wariskan keteladanan dari sedikit kebaikan yang kita punya.
Mari bercerita dan ikut bekerjasama bersama generasi baru membangun umat dan bangsa.

@ferrial_as