8/04/2017

What I've Done


For what I've done
I start again
And whatever pain may come
Today this ends
I'm forgiving what I've done
(What I've Done by Linkin Park)

Waktu SMP, saya selalu iri melihat teman-teman tampil main band di acara pentas perpisahan sekolah. Apalagi ketika mereka membawakan lagu dari Linkin Park, yang pada saat itu sedang jaya-jayanya. Keren!

Kekaguman itu ada sampai sekarang. Bahkan saya selalu berkhayal bagaimana rasanya menjadi vokalis band terkenal sedunia. Uang tak henti mengalir, diulas tak habis di media, disoraki tak lelah oleh para penggemar.

Bukankah segala hasrat dunia ada di genggaman? Materi dan popularitas. Harta dan puja. Apa yang dimau, keinginan dan kenyamanan bisa kita beli.

Tapi kenapa dengan seluruh kesenangan itu justru memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri?!

Jika alasan bunuh diri itu karena tekanan hidup dan trauma masa lalu, bukankah lebih banyak manusia di luar sana yang jauh lebih menderita dan tragis hidupnya?!  

Ah, jika saja kau dan orang-orang di luar sana pernah membaca sejarah manusia besar satu ini, maka kau akan tahu, hidupnya jauh lebih sulit dan berliku. Trauma dan luka yang dideritanya jauh lebih dalam dibanding kita. Namun ia mampu melewati semua itu!

Saudara-saudara kandungnya iri kepadanya, lalu dia dibuang ke dalam sumur di umur yang masih sangat belia. Hal ini bisa menyebabkan dua trauma; pertama, klaustrophobia (rasa takut berlebih pada ruangan sempit), dan kedua, nyctophobia (rasa takut berlebih saat gelap melanda).

Kemudian ada orang yang menemukannya dan dia dijual (human trafficking) dijadikan budak (slivary).

Karena wajahnya yang tampan menawan, istri dari majikannya berhasrat kepadanya dan memaksanya untuk memenuhi hasrat itu (sexual harassment).

Lalu dia dipenjarakan, meski bukan dia yang bersalah (kriminalisasi).

Demikianlah kilasan perjalanan hidup Nabi Yusuf as.
Ia lapangkan dadanya, peluk semua masa lalunya dan berdamai dengannya. Harapan yang tak akan pernah bisa direnggut dari hatinya, menemaninya melalui hari-hari tersulit. Selalu ada harapan. Selalu ada hari di depan.

Dari sumur dan berujung di istana. Dari budak yang diperjualbelikan menjadi pemimpin yang menghadirkan solusi bagi orang banyak.

Aku mengerti sekarang! Yah, aku paham.

Aku tak akan minder, seminimalis apapun tampang dan gayaku.
Aku tak akan putus asa, seterbatas apapun modal dan perangkat hidupku.
Aku tak akan malu, sesedikit apapun orang-orang yang mengenal namaku.
Aku tak akan menyerah, seberat apapun beban dan tantangan di hadapanku.

Kita tetap bisa bahagia, sesederhana apapun hidup yang kita miliki. Selama kita punya harapan dan tujuan hidup yang benderang...

@ferrial_as