8/03/2017

Si Idiot


Jika orang-orang pergi ke sekolah, kampus, karena mereka ingin memperoleh nilai bagus, ijazah keren, maka jadilah "si idiot" yang justru pergi ke sekolah, kampus karena ingin belajar.

Bahkan kalaupun kita tidak diterima di kampus top, fakultas terbaik, tetap jadilah si idiot yang bisa belajar apa saja sepanjang dia suka, karena kita tidak peduli dengan ukuran semua itu.

Lupakan soal lulusan terbaik, nilai UN paling tinggi, IPK paling top, apalagi calon mertua yang nyari lulusan S3. Lupakan!

Si idiot hanya fokus sekolah karena dia suka belajar, mencari ilmu. Titik.

Jika orang-orang pergi ke kantor, tempat bekerja karena mereka ingin memperoleh gaji paling tinggi, fasilitas paling top, maka jadilah "si idiot" yang justru berangkat kerja karena itu hobinya.

Bahkan kalau pekerjaan itu tidak mentereng, dianggap sebelah mata, tetap jadilah si idiot yang selalu riang bekerja, mengerti sekali setiap detiknya adalah ibadah--jadi boro-boro mau korupsi waktu, tidak masuk kamus.

Lupakan soal sikut-sikutan, pindah-pindah kerja mencari gaji tertinggi, mengeluh banyak hal, apalagi menjilat ke atasan.

Si idiot bekerja karena dia menyukai pekerjaannya, hobinya.

Jika orang-orang pergi keliling dunia, jalan-jalan kemana-mana karena mereka ingin punya foto-foto, dipamer-pamerkan, ditunjuk-tunjukkan ke orang lain, maka jadilah "si idiot" yang justru tidak merasa perlu membawa selalu kamera, berfoto ria.

Bahkan kalaupun perjalanan itu tidak penting, tidak jauh, hanya ke pasar dekat rumah, tetap jadilah si idiot yang selalu memperoleh pengalaman baru dari setiap perjalanannya.

Lupakan soal catatan hebat, si idiot lebih memilih memeluk sendiri semua pengalaman hidupnya, untuk menjadikannya semakin baik dan paham.

Boleh jadi dengan cara "si idiot" ini, kita akan benar-benar mengetahui definisi kebahagiaan hidup. Tanpa topeng, tanpa pamer, tanpa harus sibuk menjelaskan, menerangkan, apalagi membuktikan betapa kerennya hidup kita.

Si idiot tidak peduli itu semua, dia hanya sibuk menjalani hidup sebaik mungkin, mengalir seperti aliran sungai yang jernih nan bening.

Toh, yang tahu persis kita bahagia, keren, hebat, dan sebagainya adalah kita sendiri...

By: Tere Liye