Our Facebook
Facebook

Perjalanan Menelusuri Diri

Apa yang dilakukan Rasulullah saw sebelum Allah memilihnya sebagai Nabi dan menurunkan wahyu kepadanya? Apa pula yang dilakukan orang-orang besar dalam sejarah, sebelum akhirnya mereka mendapatkan kesadaran akan peran yang mereka harus ambil dalam hidup?

Yap, perenungan!

Perenungan adalah suatu proses perjalanan ke dalam diri sendiri yang rumit. Perenungan merupakan tradisi yang menjadi pintu pembuka terhadap begitu banyak kebaikan yang tersimpan di dasar laut diri kita.

Jika kita menguasai tradisi ini, maka kita akan bertemu dengan sumber keajaiban di dalam diri kita.

Perenungan bertujuan menciptakan kedekatan dan harmoni antara berbagai unsur kepribadian kita: fisik, akal, dan jiwa. Melalui perenungan, kita menjadi lebih dekat dengan diri sendiri.

Kita yang tidak terbiasa melakukan perenungan akan menemukan sedikit kesulitan pada permulaannya. Misalnya kesulitan berkonsentrasi, mengendalikan pikiran, atau menahan rasa ngantuk.

Berikut ini, beberapa petunjuk praktis dalam melakukan perenungan agar mendapat hasil yang optimal:

  1. Siapkanlah dirimu terlebih dahulu. Hadirkan akal dan jiwamu untuk melakukan perenungan yang serius.
  2. Perenungan dapat dilakukan dalam ruang tertutup atau terbuka. Yang terpenting adalah suasananya harus tenang.
  3. Perenungan akan efektif jika kamu melakukannya dalam keadaan tidak terlalu lapar atau terlalu kenyang.
  4. Sebaiknya kamu tidak melakukan perenungan jika kamu ada pekerjaan mendesak yang harus diselesaikan segera.
  5. Kamu dapat melakukan perenungan dengan cara duduk bersila atau duduk santai.
  6. Begitu kamu memulai kegiatan perenungan, biarkanlah semua lintasan pikiran berlalu lalang dalam benakmu. Kamu tidak perlu bekerja keras untuk itu.
  7. Jika dalam perenungan itu kamu tidak kuat menahan rasa ngantuk, ikutilah ritme tubuhmu untuk tidur.
  8. Kemungkinan besar kamu akan gagal melakukan perenungan pada yang pertama, kedua, ketiga atau keempat, bahkan sampai beberapa kali setelah itu. sebagian besar orang mengalami hal itu. Yang perlu kamu lakukan selanjutnya adalah tiga hal: mengulanginya, mengulanginya, dan mengulanginya.
  9. Sasaran pertama perenungan: ketenangan jiwa. Jika kamu sudah mulai merasa “betah” duduk seorang diri, dapat melawan godaan dan rangsangan untuk berbicara dan bergerak, merasakan relaksasi yang menyegarkan selama duduk, tidak terpengaruh dengan bunyi dan gerakan yang ada di sekitar kamu, melihat sesuatu di depan mata tetapi tidak merasakannya; semua itu merupakan tanda bahwa kamu telah mencapai sasaran pertama.
  10. Sasaran kedua perenungan: meningkatkan kemampuan konsentrasi. Secara bertahap kamu harus membatasi tema yang kamu renungi. Berusaha menemukan semua aspek atau hal yang terkait dengan tema tersebut. Jika kamu sudah dapat melebur ke dalam pikiran kamu tanpa merasakan berlalunya waktu, maka itu merupakan tanda bahwa kamu telah mencapai sasaran kedua.
  11. Sasaran ketiga perenungan: meningkatkan kemampuan berpikir dalam waktu lama. Satu tingkat dari sasaran kedua adalah daya tahan konsentrasi pikiran pada satu tema dalam rentang waktu yang lama. Semua kejeniusan bersumber dari sini.
Tradisi perenungan yang panjang akan membuat kita mampu tetap memikirkan satu tema dalam semua kondisi: duduk, berjalan, berbaring, membaca, dan berdiskusi. Kita mungkin mengerjakan pekerjaan lain, tetapi pikiran kita tetap terfokus ke tema yang sedang kita renungi.
Jika gagasan-gagasan yang muncul dalam benak selama masa perenungan itu mulai tampak “tervisualisasi” dalam diri kamu -dimana kamu dapat menemukan bahasa atau pengungkapannya yang tepat dan detil-, seperti ketika kita menyaksikan sebuah gambar yang mewakili imajinasi pelukisnya, maka itulah tanda perenungan kamu membuahkan hasil…
Referensi: Delapan Mata Air Kecemerlangan by Matta (2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *