5/07/2017

Surat Cinta Untuk Semua



Apalagi yang dicari oleh seorang lelaki menjelang usia 40 tahunan?

Hidupnya telah sempurna; istri yang cantik dan setia, anak-anak yang menyejukkan pandangan, rumah yang luas dan nyaman, harta kekayaan yang melimpah, usaha yang mapan, serta nama baik di lingkungan masyarakat.

Tapi lelaki ini masih juga diliputi kegelisahan. Pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan bertubi-tubi menusuk akal dan hatinya? Dia tidak merasa puas dengan apa yang dilihat di sekitarnya.

Mengapa masyarakatnya tertunduk sujud dan memohon kepada patung-patung yang terbuat dari batu? Padahal mereka sendiri yang membuatnya.

Mengapa mereka tega mengubur anak perempuannya hidup-hidup?

Mengapa mereka menghabiskan waktu dan hartanya untuk berjudi, mabuk-mabukkan, dan hura-hura?

Mengapa manusia digolongkan antara bangsawan dan budak? Bukankah mereka sama-sama manusia?

Dia telah mencoba berbuat sesuatu.
Tidak ikut menyembah patung-patung, mendonasikan hartanya untuk membantu anak-anak yatim, janda, dan fakir miskin; bersikap ramah dan lembut pada semua, memuliakan saudara, tamu, dan tetangga; serta jujur dalam berbisnis.

Dia telah mengerahkan semua yang dia bisa, tapi semuanya belum tuntas. Masih ada lubang yang menganga, dan dia harus segera menemukan jawabannya.

Dia kerahkan seluruh daya akal, jiwa, dan fisiknya untuk melakukan perenungan yang dalam.

Akhirnya, pecahlah peristiwa terbesar dalam sejarah umat manusia.

Tuhan Semesta Raya memilihnya sebagai utusan-Nya, memberikannya tugas besar untuk menyampaikan risalah kepada seluruh manusia di dunia tentang hakikat kehidupan.
***

Setiap manusia selalu berusaha mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang menggelisahkan hatinya. Saat detak nurani mengetuk jiwanya. Saat tiba di puncak kesadarannya.

Namun bagaimana bila seluruh hasil perasan intelektual, semua penemuan dan teknologi tak sanggup menjawabnya? Tak ada satu pun manusia di dunia, sepintar apapun, secerdas apapun, mampu merumuskannya.

Darimana kita berasal? Untuk apa kita hidup? Kemanakah akhirnya?

Akal seperti mata bagi tubuh manusia. Sesehat apapun mata itu, tak akan mampu melihat dengan baik dan jelas tanpa cahaya. Akal membutuhkan cahaya, dan cahaya itu adalah wahyu dari Sang Pencipta.

Karena Sang Penciptalah yang paling mengerti tentang ciptaan-Nya. Apa yang baik dan yang buruk untuknya. Apa yang memuliakan dan yang menghancurkan kehidupannya.

Dia tak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya merangkak di kegelapan bumi. Dia tak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya meski hanya sekejap mata.

Dia telah mengirimkan surat cinta untuk semuaAl-Qur’an.

Ada cinta di setiap jengkal kata
Ada kilau cahaya di ujung makna
Ada kesejukan menyusup jiwa
Ada kekuatan gemuruhkan dada
Ada kemenangan di balik fana


[ Fey I Kata Kita ]