5/24/2017

Are You Ready for Ramadhan


"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Qs Al-Baqarah, 2: 183)


Jamuan Istimewa dari Sang Pencipta


Pernahkah kalian bertanya, kenapa doa sebelum makan ujungnya minta dijauhkan dari api neraka? Apa hubungannya makan dengan api neraka?

Kenapa redaksi doanya tidak seperti ini saja, "Ya Allah, semoga makan saya ini enak, bergizi, dan mengenyangkan!" Tapi justru seperti ini, "Ya Allah berkahilah rezeki yang Kau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari api neraka."

Karena Allah Swt tidak pernah meninggalkan kita meski sekejap mata. Allah selalu mengingatkan kita setiap saat agar tidak terlena dengan kenikmatan dunia. Karena tujuan hidup dan rumah masa depan kita masih di ujung jalan sana, di balik fatamorgana dunia. Negeri akhirat!

Dengan dzikir dan doa, kita senantiasa bisa menyegarkan pikiran dan hati kita baik sebelum, sedang, dan sesudah beraktivitas. Tak terhempas dengan ujian dunia. Tak terbuai dengan pesona dunia.

Dalam sehari ada shalat fardhu lima waktu. Di setiap penggalan hari, Allah memanggil kita untuk mengisi energi jiwa. Memulai hari dengan shalat Subuh. Tengah hari dengan shalat Dzuhur. Menjelang sore dengan shalat Ashar. Menjemput malam dengan shalat Maghrib. Menutup hari dengan shalat Isya.

Dalam setahun, Allah menyediakan satu bulan penuh dengan jamuan teristimewa. Satu bulan yang dipenuhi atmosfer ketaatan dan kebaikan.

Mengingatkan mereka yang lupa.
Menguatkan mereka yang lemah.
Mendidik mereka yang lalai.
Membetulkan kembali kompas perjalanan hidup.


Festival Iman, Cinta, dan Kedamaian


Setiap komunitas manusia, selalu memiliki momen tertentu yang disemarakkan dengan berbagai acara dan kemeriahan. Biasanya bertujuan untuk memperlihatkan dan mengekspresikan budayanya serta menunjukkan kepada dunia keunikan, kekhasan, dan keunggulannya.

Begitupula Islam.
Bulan Ramadhan merupakan festival iman, cinta, dan kedamaian.

Sebulan penuh kaum muslimin dikondisikan untuk meningkatkan iman dan ketakwaannya. Dini hari dihidupkan dengan sahur. Subuh hingga Maghrib dihidupkan dengan puasa. Malam hari dihidupkan dengan shalat tarawih.

Kita yang terbiasa menyalahkan keadaan atas kelemahan atau kesalahan kita sendiri, di bulan Ramadhan, tak bisa berkelit. Karena suasananya begitu kondusif untuk menata ulang diri dengan keimanan. Kemanapun mata memandang. Ke arah manapun kita berjalan.

Akhlak atau tingkah laku juga dijaga dan dikendalikan. Apalah arti semua sujud, doa, dan puasa kita jika kita menyakiti hati orang lain melalui perkataan dan sikap kita.

Selain amalan individu, amalan-amalan sosial pun diberikan ruang dan pahala yang sama besarnya. Memberi orang makan untuk sahur atau berbuka adalah hal yang lumrah yang akan kita saksikan sepanjang Ramadhan.

Karena keshalihan tidak boleh berhenti di diri sendiri. Cinta dan kebaikan harus kita distribusikan kepada orang lain. Kepada lingkungan sekitar kita. Bisa lewat kepedulian, ilmu, nasihat, tenaga, ide, dan tentu saja harta.

Di akhir Ramadhan, ditutup dengan kewajiban berzakat. Tidak boleh ada yang kelaparan, sementara kita kenyang dan dalam kegembiraan.

Pintu silaturahim terbuka lebar. Mengikat kembali hubungan yang mulai renggang. Mendekatkan kembali jiwa dan raga yang bejauhan. Dalam nuansa iman, cinta, dan kedamaian.


Pusat Pelatihan Manusia-Manusia Hebat


Sumber kejahatan dalam masyarakat adalah individu-individu yang jahat. Dan sumber kejahatan dalam diri manusia adalah ketika diri tidak mampu mengandalikan hawa nafsu.
Puasa mengajarkan kita untuk mampu mengendalikan diri (self control).

Dilihat orang atau tidak, kita tetap menjauhkan diri dari makanan dan minuman. Dari hal-hal yang membatalkan. Dari kelakuan-kelakuan buruk yang akan menjatuhkan pahala puasa kita. Selalu merasa diawasi oleh Allah setiap saat.

Hanya dengan pengendalian diri lewat jiwa yang selalu bersama Allah, maka setiap orang akan mampu meningkatkan dan menjaga integritas kepribadiannya.

Tetap berbuat baik meski tak seorang pun melihat. Tetap berkarya meski dalam hening. Tetap berbakti meski sepi tanpa pujian dan tepuk tangan.
Tetap meninggalkan keburukan meski peluangnya terbuka lebar. Tak hanya malu berbuat maksiat dan dosa di keramaian, tapi juga saat sendirian.

Jika individu-individu baik, maka akan menjalar dan terlahirlah masyarakat yang baik. Masyarakat yang saling memperhatikan, mendidik, peduli, dan berbagi.

Adakah alasan bagi kita untuk tidak menyambut Ramadhan dengan gembira?

Don't miss it!
Are you ready for Ramadhan?

[ Fey I Kata Kita ]