4/02/2017

Move 2: Sepanjang Jalan Kenangan


Kuping panas.
Muka memerah.
Hati bergejolak.
Kami, dua bujang yang tersisa dari angkatan di SMP dulu, habis dicecar dengan berbagai pertanyaan yang menyengat hati. "Kapan nyusul?" "Ga inget umur!" "Berdua aja, jangan-jangan..."

Menyebalkan. Kenapa semua orang tiba-tiba jadi seperti reporter dan host infotainment?
Oh, kapankah penderitaan ini akan berakhir?

Setelah makan, kami memutuskan segera pamitan. Jabat tangan dan berdoa untuk mempelai. 'Nyecep'. Sesi poto.

Dua tahun belakangan, rasanya semakin sulit untuk bisa menikmati menu-menu yang tersaji di hajatan. Padahal tadi ada stand ice cream, mie kocok, siomay, zupa-zupa. Mubadzirkan kalau tersisa?

Selama perjalanan pulang Trisna nyetir sambil tak henti bersungut-sungut. "Teman macam apa mereka? Seneng banget ngerusuhin hidup orang. Harusnya kan doakan aja biar bisa cepat nikah! Ga perlu tanya macem-macemlah, sampai bilang jangan-jangan kita ini homo!"

Ah, daripada hati semakin kesal dengar ocehan Trisna, aku putar musik dari hp.

Sial. Tepat ketika kami melaju di rute berangkat dan pulang waktu SMP dulu, lagu ini mengalun dari earphone.

Sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandeng tangan
Bukan. Sepanjang jalan kenangan, kita naik motor boncengan.

Sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra
Bukan. Sepanjang jalan kenangan, sama cowo mana bisa mesra!

Hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu menambah nikmatnya malam syahdu
Bukan. Matahari bersinar terik di siang hari ini, menambah bara panas di hatiku.

Usia bertambah. Tidak punya pasangan. Tidak punya pekerjaan.
Lagi. Ketakutan akan masa depan hadir begitu saja di hati. Penyesalan menyia-nyiakan masa muda yang terhujam dalam.

Hei, aku melihat sosok laki-laki yang dulu sempat lekat dengan hidup kami waktu SMP.
Topi ala seniman lusuhnya. Kaos polo, celana katun, dan sendal cepitnya. Gerobak dorong dan loncengnya. Mang Oding, sang penjual cendol. Tidak ada yang berubah darinya, kecuali uban dan kerut di wajahnya.

Aku suruh Trisna menepi.
"Tadi kan kita tidak sempat mencicipi es krim, cendol seger kayanya mantep deh?"
"Boleh uga!"

Trisna lekat mengamati, "Eh, mang Oding! Kumaha damang mang?" Sadar juga.
Mang Oding menatap kami, "Alhamdulillah sae. Oh, ieu mah si Asep! Nu meli sok nganjuk heula!"
Kami tetawa lebar.

Trisna nama lengkapnya Asep Sutrisna. Waktu SD sih, Trisna tidak ada masalah dengan namanya. Barulah waktu SMP, teman-teman ngebully habis-habisan. Nama yang cocok buat kolot katanya. Makannya dia lebih senang dipanggil Trisna. Kerenan dikit. Malah papan nama di seragamnya juga ditulis Trisna. Karena melanggar peraturan sekolah, Trisna selalu kena razia. Tapi dia tidak mau mengubahnya, malahan nangis ketika ditanya guru. Beruntung wali kelasnya mengerti keadaan Trisna dan meminta keringanan dari pak wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

Kami berbincang-bincang sambil menyeruput cendol. Rasanya tidak berubah. Ternyata, tidak ada perubahan sama sekali dari Mang Oding selama kurang lebih sepuluh tahun ini.

Muncul pertanyaan-pertanyaan di benakku. Apakah mang Oding punya keluarga atau tidak? Sudah setua ini masih berjualan keliling, kemana anak-anaknya? Aku urung menanyakannya, khawatir mungkin akan menyakiti hatinya. Toh, kelihatannya dia tetap senang dengan pekerjaannya.

Muncul lagi pertanyaan di benakku. Dan kali ini pertanyaannya lebih tepat ditujukan kepadaku sendiri! Kenapa tidak ada perubahan selama sepuluh tahun ini? Masih begitu-begitu saja?

Jangan-jangan aku sama dengan mang Oding, bertambah usia tapi tidak bertambah kemajuan sama sekali. Stagnan. Beku untuk berkreasi dan berinovasi.

Tentu akulah yang paling parah.
Mang Oding tidak berkesempatan untuk bersekolah, sementara aku diberi kesempatan sampai perguruan tinggi.
Mang Oding tidak punya banyak pilihan selain berjualan. Sementara aku punya banyak pilihan dan alternatif untuk diambil dan dikembangkan.

Seharusnya hidupku lebih baik. Lebih berarti. Lebih banyak berbagi.
Tapi bagaimanalah hidup akan lebih baik dan berarti jika aku berleha-leha dalam menjalani hari? Apa yang mau dibagi jika aku pun tidak memiliki?

Ini bukan tentang gengsi, apalagi sekedar hitung-hitungan kepemilikan materi.
Tapi ini tentang kehormatan diri.

Pantaskah pemuda sepertiku yang punya fisik dan akal yang sehat, potensi dan bakat, peluang dan kesempatan belajar, dan didukung kemajuan teknologi tidak mengembangkan diri dan berprestasi?

Dadaku bergemuruh.
Aku tidak menyesal melewati jalan kenangan ini. Kesadaranku terketuk lagi...

[ Fey I Kata Kita ]