2/25/2017

Mari Menjadi Manusia (final chapter)


Kekuatan yang membangun manusia adalah kekuatan jasmani, kekuatan akal atau pikir, dan kekuatan hati atau rasa. Inilah hakikat manusia menurut Allah.

Daya jasmani, bila dididik dengan benar akan menghasilkan manusia yang sehat serta kuat.

Akal, bila dididik dengan benar akan menghasilkan manusia yang cerdas serta pandai.

Hati, bila dididik dengan benar akan menghasilkan manusia dengan nurani yang tajam.

Perkembangan harmonis ketiga unsur ini akan menghasilkan manusia yang utuh.


Inti Manusia

Dalam kajian lebih lanjut ditemukan bahwa antara ketiga unsur itu ternyata unsur hati atau kalbu itulah yang merupakan unsur terpenting pada manusia.

Di dalam diri manusia itu ada segumpal daging, bila daging itu baik maka baiklah keseluruhan manusia itu, dan bila daging itu jelek maka jeleklah keseluruhan manusia itu, daging itu ialah hati.” (Hr Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas mengandung pengertian bahwa hati yang dimaksud di sini ialah kalbu, tempat atau pusat rasa yang ada pada manusia dan merupakan pusat kendali manusia.

Jadi, jika kita bertanya apa inti dari manusia, maka jawabnya adalah hati. Hati itulah pengendali manusia.

Dari sini dapat pula kita mengetahui bahwa tujuan utama pendidikan seharusnya adalah membina manusia secara seimbang antara jasmani, akal, serta hatinya; dan hatilah yang harus diutamakan.

Supaya hati berkembang menjadi hati yang baik, hati itu harus diisi kebaikan. Tuhan adalah kebaikan tertinggi. Karena itu, agar hati menjadi baik, hati itu harus berisi Tuhan. Tuhan menjadi raja yang bertahta di hati itu.

Bila Tuhan telah bersemayam di hati dan menjadi raja di sana, maka hati itu akan baik.
Iman tidak bertempat di badan atau jasmani, tidak pula di pikiran atau akal. Iman itu di dalam hati.

Berkata orang-orang Arab pegunungan, ‘kami telah beriman’; katakan (olehmu Muhammad), kalian belum beriman... karena iman belum masuk ke dalam hati kalian.” (Qs Al-Hujurat: 14) Rupa-rupanya, iman orang Arab pegunungan itu baru berada di lidah atau kepala mereka, belum masuk ke dalam hati mereka.

Iman itu di hati, ini dapat dipahami. Karena hati adalah pusat kendali manusia, hati adalah inti sari manusia.

Bila manusia telah beriman, berarti Tuhan telah berada di dalam hati orang itu, maka orang itu secara keseluruhan akan dikendalikan Tuhan.

Inilah hakikat beriman, yaitu tatkala manusia telah sepenuhnya tunduk dan dikendalikan Tuhan.

Bila hati telah dipenuhi iman, artinya, Tuhan telah bertahta di hati, maka isi hatinya itu hanyalah Tuhan, dengan sendirinya ingatan orang itu hanya Tuhan dan tidak pernah lepas dari ingat pada Tuhan.

Orang itu mungkin saja suatu ketika memikirkan uang, kekuasaan, atau hal lainnya, tetapi itu semua tidak pernah lepas dari Tuhan.

“...yaitu orang-orang yang mengingat Allah tatkala berdiri, duduk, maupun berbaring.” (Qs Ali Imran: 191)

Mari menjadi manusia!

***
Referensi: Filsafat Pendidikan Islam by Prof. Dr. Ahmad Tafsir

[ Fey I Kata Kita ]