12/22/2016

Moga Bunda Disayang Allah (part 3)


Bunda,
Saat kami bayi, engkau orang terakhir tidur setelah dunia lelap
Bahkan boleh jadi tidak tidur, agar kami bisa nyenyak
Dan engkau pula yang pertama kami lihat saat terjaga

Bunda,
Saat kami kanak-kanak, engkau orang terakhir yang putus rasa sabarnya
Bahkan boleh jadi tidak pernah, walau orang lain telah jengkel setengah mati
Dan engkau pula yang pertama membesarkan hati

Bunda,
Saat kami gagal, engkau orang terakhir yang berputus asa
Bahkan boleh jadi tidak pernah, meski seluruh dunia sudah berhenti berharap
Dan engkau pula yang pertama menghibur

Bunda,
Saat kami sakit, engkau orang terakhir yang bertahan menemani
Bahkan boleh jadi tidak pernah pergi, meski sekitar telah kembali sibuk
Dan engkau pula yang pertama berbisik kabar kesembuhan

Bunda,
Saat kami ragu-ragu, engkau orang terakhir yang hilang keyakinan
Bahkan boleh jadi tidak pernah pergi, meski sekitar telah menyerah
Dan engkau pula yang pertama berbisik tentang janji-janji

Walaupun,
Saat kami besar, boleh jadi engkau orang terakhir yang kami hubungi
bahkan boleh jadi tidak pernah, karena alasan sibuk atau apalah

Walaupun,
Saat kami bahagia, boleh jadi engkau orang terakhir yang tahu
bahkan boleh jadi benar-benar amat terlambat, karena alasan tidak sempat atau apalah

Bunda,
Di antara bisik doa-doa-mu, sungguh terselip beribu nama kami
Dan boleh jadi itulah yang membawa kami hingga seperti hari ini
Engkau orang terakhir yang akan berhenti mendoakan kami
Bahkan boleh jadi tidak pernah berhenti, hingga akhir hayat

Dan sungguh
Engkau pula orang pertama yang mengucapkan kata Aamiin bagi kami

Moga Bunda Disayang Allah...
(Written by: Tere Liye)