11/26/2016

Pesan Dari Timnas Indonesia di AFF Cup 2016


Akhirnya, kerinduan masyarakat Indonesia terhadap Tim Nasional terobati sudah. Sejak dicabutnya hukuman dari FIFA, Mei 2016 lalu, setahun sudah Indonesia bolos mengikuti semua ajang sepak bola Internasional. Dari mulai Piala Asia di Uni Emirat Arab hingga kualifikasi piala dunia 2018. Kini, Timnas berkesempatan mengikuti ajang turnamen dua tahunan negara se-Asia Tenggara, AFF Suzuki Cup 2016 di Filipina. Hei, di luar dugaan bisa masuk semifinal!

Tentu tidak mudah menghadirkan prestasi setelah melewati badai masalah. Terbatasnya pemain karena masing-masing klub hanya mengizinkan dua pemainnya dipanggil, sedikitnya waktu yang tersedia untuk persiapan internal juga mengasah strategi dan kesolidan tim lewat laga-laga uji coba.

Bagi kita, melihat Timnas tidak berprestasi sepertinya sudah biasa, hehehe. Benci tapi rindu. Saat ini, menyaksikan Timnas bisa berlaga kembali saja sudah bahagia tak terkira. Dan yang paling penting adalah bukan hanya saat ini saja, tapi keberlangsungannya ke depan.

Mudah-mudahan kepengurusan PSSI yang baru mampu menyolidkan sistem dan manajemennya. Menata ulang sepak bola Indonesia lewat pembinaan bibit-bibit muda, kompetisi yang sehat dan profesional, serta pemenuhan dan pembangunan infrastrukturnya.

Indonesia it’s not poor country, it’s rich country. But poorly manage.” (Pandji Prawigaksono)

Mari kawal terus serta dukung dengan semangat dan doa!


Pesan Moral Dari Timas di AFF Suzuki Cup 2016

1. Harapan selalu ada
Setelah semua terpaan masalah, pandangan sinis dan pesimistis, lawan tangguh di hadapan. Di dalam hati kita yang terdalam, harapan itu tak pernah mati. Hanya dia lemah dan berkedip-kedip kecil. Kitalah yang memutuskan untuk mematikan terangnya atau nyalakan kembali sinarnya!

2. Maju pantang menyerah
Meski sedikit persiapan, meski lebih sedikit waktu yang dimilki, meski sedikit pengalaman; tak ada alasan bagi kita untuk mundur! Teruslah maju dengan segenap potensi dan kesempatan yang dimiliki. Jalannya hanya satu, bekerja keras!

3. Kritik itu sudah jadi bagian dalam hidup
Kritikan akan selalu datang, entah itu saat kita melakukan hal yang baik apalagi saat melakukan kesalahan. Sediakan selalu kelapangan di hati, kesiapan untuk mendengar, dan keinginan untuk terus belajar. Orang lain hanya tahu tampak luar, kitalah yang paling tahu tentang diri kita sendiri. Kita yang paling berhak dan berkewajiban mengoreksi diri sendiri. Dan kita yang bisa menilai kapan kritik itu dibiarkan, kapan kritik itu kita pakai untuk memperbaiki diri.


Come on, Indonesia!!!

[ Fey I Kata Kita ]