11/30/2016

Memungut Kebaikan yang Berserak


Di era ini, anak muda tak lagi dapat menutup mata dan telinganya dari berbagai serbuan informasi, nilai, dan budaya dari berbagai belahan dunia.

Generasi muda saat ini menikmati mudahnya mengakses segala hal. Peluang untuk berkreatifitas, menemukan inspirasi, menjalin koneksi terbuka lebar.

Tapi di sisi lain, anak muda juga kebingungan memilih dan memilah; manakah kebenaran, yang manakah kejahatan. Manakah kebaikan, yang manakah keburukan. Apakah akan memperkuat jati dirinya sebagai orang beragama, atau justru melemahkannya. Apakah akan menambah rasa cintanya pada bangsa, atau malah menguranginya.

Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa pemilik media didominasi-jika tidak bisa dibilang dikuasai-oleh the invisible hand, tangan-tangan jahat di balik layar. Penjajahan model baru. Menurut ahli sejarah Haikal Hasan, strategi untuk menghancurkan suatu bangsa adalah dengan menjauhkan anak muda dari ajaran agama dan memutusnya dengan rantai kebesaran sejarah.

Ada 3 cara melemahkan dan menghancurkan suatu negeri :

  1. Hancurkan mental generasi mudanya (cinta dunia).
  2. Samarkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenarannya.
  3. Putuskan hubungan mereka dengan leluhur dengan mengatakan jika leluhur mereka itu bodoh dan primitif.
(architects of deception - - secret history of freemasonry)

Hampir di setiap rumah ada televisi. Hampir setiap kita mengenggam gadget yang terkoneksi dengan internet. Siapa anak muda hari ini yang tak suka mendengarkan musik, nonton film, dan menjelajah di dunia maya?

Harus kita akui, media memang memiliki kekuatan dan sihir besar bagi manusia, khususnya anak muda.

Berapa sering kita ditipu iklan? Sesering apa pun pakai facial wash, kalau dari sananya udah berkulit sawo matang, ga akan bertambah putih.

Berapa banyak lagu dan film yang bertema pacaran? Banyak banget tuh! Bukankah itu membuat anak muda merasa bahwa hal terbesar dan terpenting dalam hidupnya adalah perasaan terhadap lawan jenis?

Pernahkah kita merasa takut melihat laki-laki bersorban, berjenggot, dan celana ngatung? Atau menaruh curiga kepada perempuan yang bercadar?

That’s the real power of media!

Tak ada tempat untuk bersembunyi.

Jika kita menjauh dan mengasingkan diri, justru itu adalah kekalahan. Kita akan semakin jauh tertinggal. Hanya duduk manis sebagai penonton, atau malah kita jadi korban dari arus globalisasi.

Tak ada pilihan lain selain menghadapinya.

Dalam sejarahnya, anak-anak muda selalu bisa memanfaatkan ancaman menjadi peluang. Kelemahan menjadi kekuatan. Yo, melek media! Atau bahasa kerennya literasi media.

Apa itu literasi media?

Kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan pesan dalam berbagai bentuk.” (Firestone)


Keahlian memahami dan menggunakan isi media.” (Rubin)

Dapat disimpulkan, literasi media adalah kecerdasan dalam menggunakan media.
Tujuannya agar anak muda secara kritis bisa melihat dan membedakan apa yang baik dan apa yang buruk dalam media. Literasi media mendukung kita agar bisa memetik manfaat dari perangkat dan sumberdaya pada era digital saat ini.


Ternyata, menurut para pakar, salah satu jembatan menuju masyarakat makmur adalah dengan menghadirkan generasi literat. Yaitu generasi yang kritis terhadap segala informasi dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Langkah yang dapat kita lakukan, yaitu:

  1. Bentuklah karakter diri dengan ilmu agama dan kebangsaan, baik melalui pendidikan maupun bacaan.
  2. Tentukan tujuan ketika menggunakan media, bukan sekedar untuk mengisi dan membunuh waktu.
  3. Buat jadwal saat menggunakan media.
  4. Jangan segera percaya, jangan pula cepat menolak.
  5. Bergabung atau buatlah forum atau tempat untuk berdiskusi, baik formal atau pun santai.
  6. Ambil nilai atau semangat kebaikan yang kita pikir dan rasa sesuai dengan jati diri, kebutuhan, dan manfaat kita serta orang lain.
  7. Susun informasi yang ingin kita bagikan sesuai etika dan kemas dengan menarik.
Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)

Mari memungut kebaikan yang berserak!

[ Fey I Kata Kita ]