11/24/2016

Kapal Tua


By: Abdur Arsyad

Jaya Indonesia

Sebagai anak nelayan dari Lamakera
Saya melihat Indonesia itu seperti kapal tua yang berlayar tak tahu arah
Arahnya ada, hanya nahkoda kita yang tak bisa membaca
Mungkin dia bisa membaca, tapi tertutup hasrat membabi buta
Hasrat hidupi keluarga, saudara, kolega dan mungkin istri muda

Indonesia itu memang seperti kapal tua
Dengan penumpang berbagai rupa
Ada dari Sumatera, Jawa, Madura, Sumbawa hingga Papua
Bersatu dalam Nusantara

Enam kali sudah kita ganti nahkoda
Tapi masih jauh dari kata sejahtera
Dari dulu teman-teman, dari teriakan kata merdeka!
Sampai sekarang, follback donk kaka!

Nahkoda pertama
Sang proklamator bersama Hatta
Membangun dengan semangat Pancasila
dan terkenal di kalangan wanita

Ia pernah berkata
Mampu guncangkan dunia dengan sepuluh pemuda
Tapi itu kan kurang satu untuk tim sepakbola
Kalau begini kapan kita bisa ikut piala dunia?

Nahkoda kedua
32 tahun berkuasa
Datang dengan program pembangunan bernama Pelita
Bapak pembangunan bagi mereka
Bagi saya tidak ada bedanya! Tidak ada!!!

Penumpang bersuara berakhir di penjara
Atau hilang di lautan tanpa berita
Beda dengan Dodit Mulyanto hanya modal biola saja

Terkenal di Indonesia

Nahkoda ketiga
Sang wakil yang naik tahta
Mewarisi pecah belahnya masa orba
Belum sempat menjelajah samudera
Ia terhenti di tahun pertama

Dibanggakan di Eropa
Dipermainkan di Indonesia
Jerman dapat ilmunya
Kita dapat apa???
Antrian panjang nonton filmnya!


Nahkoda selanjutnya
Sang Kiai dengan hati terbuka
Ia terhenti dalam sidang istimewa
Ketika tokoh-tokoh reformasi berebut istana
Potong bebek saja..
Gitu aja kok repot? Kata Gusdur featuring Ursula


Nahkoda kelima
Nahkoda pertama seorang wanita
Dari tangan ibunya
Bendera pusaka tercipta
Kata bapaknya
Berikan aku sepuluh pemuda

Tapi apa daya
Itu di luar kemampuan ibu beranak tiga
Kalau mau sepuluh pemuda
Ambil saja dari followersnya Raditya Dika!
cemungud yah kaka!


Nahkoda keenam bagian A
Kenapa bagian A?
Sengaja biar tetap pada rima A

Dua pemilu mengungguli perolehan suara
Dua kali disumpah atas nama Garuda
Tapi itu hanya awal cerita
Cerita panjangnya terpampang di banyak media
Lapindo, Munir, Century, Hambalang, kami 
menolak lupa!!!

Kini, ia telah hadir di 
social media
Mungkin bermaksud mengalahkan Raditya Dika
Setelah empat album yang berakhir entah seperti apa
Mungkin ia akan membuat film, Malam Minggu Istana

Teman-teman, kini 2014 telah tiba
Saatnya kita kembali memilih nahkoda
Pastikan dia yang mengerti Bhinneka Tunggal Ika!
Bukan boneka milik Amerika!

Dia yang mengerti suara kita!
Suara kalau Indonesia bisa!
Bukan suara 'aitakata! Eyaa eyaa!
atau folbek donk kaka!

Inilah cerita kapal tua kita
Ada yang tidak percaya? Ada?
Sudah, kalian percaya saja!