Our Facebook
Facebook

Harmoni


Keharmonisan adalah adanya hubungan yang terarah, teratur, dan berlangsung begitu indah antara diri kita dengan diri sendiri, antara diri dengan Tuhan, diri dengan orang lain, lingkungan sekitar, dan alam dimana kita berada.

Inilah unsur kebahagiaan sejati setelah kita mengetahui tujuan hidup.

Seluruh aturan Islam yang diturunkan oleh Allah Swt ke dunia, semata-mata memberi manusia petunjuk tentang bagaimana mengatur hubungan dengan seluruh sisi hidup kita.

Mengapa Islam menyuruh kita jika bertemu dengan orang lain memberi salam? Rasul Saw mengatakan, “Tebarkan salam, berikan makan, sambunglah tali silaturrahim, dan bangunlah untuk shalat ketika orang lain tertidur. Niscaya engkau akan masuk surga dengan aman sentosa.”

Memberi salam berarti saat kita memasuki dunia orang lain, dimulai dengan doa. Doa itu adalah doa kebahagiaan yang sekaligus menunjukkan niat baik kita kepada orang itu. Ketika kita memberi makan, kita memenuhi kebutuhan biologis atau kebutuhan pokok seseorang. Hal ini akan membuat orang gembira. Ketika menyambung silturrahim, kita tidak hanya membatasi hubungan secara fisik atau materi semata, tetapi juga hubungan kejiwaan antara kita dengan orang lain. Bangun tengah malam, kita menghimpun hubungan-hubungan tadi dengan arah dan misi yang jelas. Semuanya menuju Allah Swt.

Kita perhatikan, kenapa Islam menyuruh kita bersedekah? Mengapa Islam menyuruh tersenyum setiap kali bertemu dengan orang lain? Karena kita bisa bersedekah dengan apa saja.

Mengapa Islam melarang kita menggunjing? Mengapa Islam melarang kita memanggil dengan gelar yang buruk atau buruk sangka pada orang lain? Mengapa Islam melarang memukul, merusak kehormatan orang lain? Mengapa Islam melarang berzina dan membunuh? Itu disebabkan karena semua perilaku tadi merusak pola hubungan dan keharmonisan kita dengan orang lain.

Tidak ada di dunia ini orang yang bisa bahagia seorang diri. Orang yang bisa mengaku bahagia seorang diri, kebahagiaannya dibangun di atas penderitaan orang lain. Ia tidak akan pernah benar-benar bahagia selamanya dalam hidup.

Mungkin kita bisa bahagia karena bisa mengembangkan potensi dalam diri kita. Kita bisa sukses di sekolah, di perkuliahan, bisnis atau pekerjaan. Tetapi jika untuk kesuksesan itu kita terpaksa tidak mengunjungi orang tua, terpaksa meninggalkan saudara dan sahabat, terpaksa mengorbankan hubungan dengan keluarga; berarti kita membayar satu kesuksesan itu dengan penderitaan orang lain.

Kelak penderitaan itu akan menjadi balasan yang merampas semua kebahagiaan yang kita rasakan, entah di dunia dan atau di akhirat…

(Disadur dari buku “Sebelum Mengambil Keputusan Besar Itu…”, Mata)

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *