Pesan Moral film Train to Busan

(Karena ada spoiler nya, disarankan membaca bagi yang sudah menonton filmnya ... he)

Sebagai seorang pria, jujur, malas kalau disuruh nonton film Korea. Tapi sebagai seorang penulis dan mahasiswa, tidak bisa punya stereotype kepada suatu budaya atau ras. Karena agama pun mengajarkan untuk mengambil hikmah atau kebaikan darimanapun datangnya.

Sejak menonton drama Korea "Pinocchio", saya menyadari, sineas Korea punya keunggulan dalam menggabungkan sisi hiburan dan sisi kehidupan; sisi drama dan sisi kenyataan. Dan saya temukan kembali hal itu di film layar lebar "Train to Busan".

Film bergenre horror yang menceritakan serangan mayat hidup ini memadukan ceritanya dengan drama. Tidak ada yang istimewa di film ini. Zombienya tidak berbeda dengan film "World War Z" -nya Brad Pitt, malah di Train to Busan tidak ada analisis ilmiah dan bagaimana cara pengobatannya.

Tapi film ini jadi menarik ketika memunculkan sisi-sisi humanis. Hubungan antara ayah dan anak. Tentang keluarga. Tentang kepedulian terhadap sesama. Lalu ending nya dibuat "nyesek", seperti "I am Legend" -nya Will Smith. Si anak selamat, tapi ayahnya tergigit zombie dan harus mengorbankan dirinya.

Nah, dari film Train to Busan, ada beberapa pesan moral yang bisa kita ambil, yaitu:

1. Materi bukanlah segalanya
Di dunia ini banyak hal yang tidak bisa dibeli oleh uang, di antaranya cinta, keluarga, dan kebahagiaan. Di film ini, tokoh utama Seok Woo sukses bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan. Namun ia gagal dalam membangun rumah tangga, ia bercerai dengan istrinya. Karena kesibukan kerja, dia juga tidak datang ke acara anaknya di sekolah. Padahal sang anak, Su-an, telah mempersiapkan lagu spesial khusus untuk sang ayah.

2. Miliki catatan khusus untuk orang-orang yang kita cintai
Seok Woo punya niat baik dengan membelikan anaknya hadiah di hari ulang tahunnya. Sayangnya, dia malah membelikan mainan yang sama dengan hadiah tahun yang lalu, sehingga mengecewakan anaknya. Ekspresi anaknya seolah bilang, "Niat ga sih, pah?" Memberi hadiah itu penting, tapi jauh lebih penting untuk menunjukkan kepedulian dengan tulus.

3. Jangan sia-siakan waktu yang kita miliki
Kematian akan menjemput kita kapan dan dimana saja tanpa pernah kita duga. Bisa saat diam di rumah atau pulang sekolah. Saat terang atau saat gelap. Saat sendiri atau saat di keramaian. Saat bahagia atau saat berduka. Saat dalam kebaikan atau saat dalam keburukan. Jangan sia-siakan waktu yang kita miliki, buatlah karya dan kenangan yang baik untuk orang-orang di sekitar kita.

4. Hikmah bisa datang kapan saja dan dimana saja
Seok-Woo sebelumnya adalah orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Di tengah perjalanan dia berubah menjadi lebih peduli. Hal itu disebabkan oleh anaknya yang ingin menolong orang lain karena teringat dengan neneknya di rumah. Juga bertemu dengan tokoh pasangan suami-istri. Sang-Hwa, suami gagah berani yang melindungi istrinya yang sedang mengandung dan tak segan bertarung untuk menolong orang lain. Sang istri, Sung-Gyeong, meski hamil tak menghalangi dirinya untuk ikut membantu menolong orang lain.

5. Balasan akhirat itu pasti
Ada tokoh nyebelin di film ini, yaitu Yong-Suk, pria paruh baya yang tega mengorbankan nyawa orang lain demi keselamatan dirinya sendiri. Dia merasa lebih penting dari orang lain. Orang ini selamat berkali-kali dari maut, tapi dengan menumbalkan banyak nyawa. Sungguh tidak adil kehidupan ini jika orang seperti itu hanya berakhir di dunia dengan sekali kematian. Sementara ada orang-orang yang berbuat baik dan rela berkorban demi orang lain meski tak dikenal, meski tak mendapat penghargaan yang layak dari manusia. Karena itu, pembalasan akhirat itu pasti !!!

6. Cinta sejati membutuhkan pengorbanan

Cinta adalah memberi. Memberi apa saja yang dibutuhkan orang-orang yang kita cintai agar bertumbuh lebih baik dan berbahagia karenanya. Dan itu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.


Sekian. Semoga bermanfaat. 
Mari memungut kebaikan yang berserak di kehidupan kita! [ Fey I Kata-Kita ]
Labels: Behind The Scene

Thanks for reading Pesan Moral film Train to Busan. Please share...!

1 Comment for "Pesan Moral film Train to Busan"

Keren filmnya, tapi unsur drama ala koreanya bener2 kerasa (dan saya ga terlalu suka film drama korea hehe)

Back To Top