Our Facebook
Facebook

Tim Kehidupan

Kita adalah dua simpul yang bersatu
Membentuk lingkaran kebaikan
Terus melebar merangkul siapa pun…

Jika mencintai adalah keputusan, maka setiap keputusan pasti mengandung tanggung jawab dan konsekuensi. Konsekuensi yang harus ditanggung selama cinta itu menyala. Selama cinta itu bersemi, dan jika cinta itu hendak mengabadi. Begitulah Khadijah memahami sepenuhnya makna mencintai.

♥♥♥

Pemuda itu menjadi distributor untuk perusahaan dagang miliknya. Jauh sebelum bertemu langsung, Khadijah telah mendengar kabar tentangnya. Kabar tentang kemuliaan dan keelokan pribadinya. Akhirnya Khadijah berkesempatan untuk membuktikannya langsung.

Pemuda itu diberi tanggung jawab sebagai manajer dagangnya menuju Syam. Sepulangnya dari sana, sang asisten sekaligus mata-matanya, Maisaroh, menceritakan kejujuran dan kehebatan pemuda tersebut. Pemuda dengan pesona dan kematangan pribadi ini menarik hati Khadijah. Dan Khadijah memutuskan bergerak cepat meminta sang pemuda berkenan meminangnya.

Janda kaya dan anggun berumur 40 tahun yang dikagumi serta diinginkan para bangsawan Quraisy, akhirnya memilih menikah dengan pemuda ‘sederhana’ yang lebih muda lima belas tahun darinya.

Dari awal, Khadijah sadar pemuda ini bukanlah lelaki biasa. Khadijah juga bisa menduga bahwa akan tiba masanya lelaki yang dicintainya ini ‘meledak’ dalam sejarah kehidupan manusia.

Maka ketika suaminya itu berlari masuk ke rumah dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya, lalu meminta diselimuti dan dengan bergetar hebat dia menceritakan apa yang dilihat dan terjadi padanya di gua Hira; dia sangat khawatir jika dia didatangi jin.

Khadijah mantap menenangkan suaminya, “Tidak perlu khawatir, Allah tidak akan pernah menghinakanmu, sesungguhnya engkau orang yang menjaga tali silaturrahmi, senantiasa mengemban amanah, berusaha memperoleh sesuatu yang tiada, selalu menghormati tamu dan membantu orang-orang yang berhak untuk dibantu.”

Tugas besar kemanusiaan kini telah dibebankan pada pundak suaminya; menyebarkan cahaya kebenaran dan cinta Illahi ke seluruh manusia di bumi ini.

Tak ada rasa enggan. Tak ada keberatan. Khadijah telah membulatkan tekadnya. Cintanya akan ikut serta mendukung dan menjadi bagian perjuangan suaminya.

Saat suaminya di malam dingin lembut berkata, “Wahai Khadijah, waktu tidur telah lewat…” Khadijah terjaga. Bangkit berdiri. Dan dia kerahkan semua daya. Dia keluarkan semua harta. Dia serahkan segenap jiwa. Bersama suaminya memenuhi titah Sang Pencipta dan panggilan kemanusiaan.

Ikatan cinta mereka bergemuruh menjadi gelombang kebaikan ke seluruh lautan kehidupan. Dan romantika hadir di sepanjang jalan perjuangan. Senyum, air mata, bahagia, dan duka, telah melebur bersama dalam ayunan langkah perjuangan.

Mereka adalah TIM KEHIDUPAN.

Mereka adalah dua simpul yang bersatu, membentuk lingkaran kebaikan.
Terus melebar merangkul siapapun.
Terus meluas meneduhi siapapun.
Menghadirkan sepotong surga di muka bumi yang nyaman dihuni oleh setiap manusia.

[ Fey I Kata Kita ]

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *