1/09/2016

Filosofi Shalat Berjama'ah

Shalat sering diartikan sebagai proses pertemuan antara Sang Khalik dengan hambanya. Shalat juga dipahami oleh banyak orang sebagai sarana diskusi dengan Tuhan, di mana mereka mencurahkan segala keluh kesahnya dengan harapan Tuhan akan memberikan jalan keluar baginya. Bentuk ritualnya pun bermacam-macam, ada shalat yang hanya dikerjakan sendiri dan ada shalat yang dilaksanakan secara bersama-sama.

Kita memahami pula bahwa shalat merupakan tiang agama, dan tanpa shalat, ibadah lainnya bernilai “NOL”. Siapa yang shalat, maka ia akan mendapatkan ganjaran, dan siapa yang melewatkan shalat, dengan alasan apapun, ia akan mendapatkan balasannya, meskipun tetap Allah lah yang memegang hak dari semua keputusan.

Namun, apakah pernah terpikir dalam benak kita bahwa shalat yang kita lakukan hanya sebatas jual beli ibadah (shalat karena cuman pengen sorga) atau betul-betul mengharap Ridha Allah. Sedang realiatas yang ada, yang sering kali menjebak kita, dan membuat pola pikir kita hanya berkutat soal apa yang kita dapatkan dari shalat, tanpa memahami lebih pasti tentang histori dari shalat itu sendiri, serta entitasnya.

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Cak Nun (Emha Ainun Najib), bahwa ketika kita melakukan shalat, buanglah jauh-jauh pikiran kita akan mendapat surga dari Tuhan, karena Tuhan pun dengan sendirinya (dengan rahmat dan kehendaknya) akan memberikan balasanya kepada kita nanti, jangan takut tidak kebagian kostan di alam kekal.

Dalam budaya sunda terdapat istilah ‘sabilulungan’, kita sepakat bahwa sabilulungan mengajarkan kita mengenai indahnya kebersamaan. Sesulit apapun pekerjaaan yang kita miliki, jika dikerjakan secara berjamaah tentu akan terasa mudah. Hal ini pula yang melatarbelakangi Allah menyeru kepada kita untuk shalat berjamaah. (masa Tuhan bikin aturan tanpa alasan yang jelas).

Budaya sabilulungan tersebut sebetulnya telah menjadi budaya yang berkembang di negara kita, dan islam telah lebih dahulu mengajarkannya. Inilah salah satu alasan yang menjadikan islam sebagai agama paling sempurna, tanpa koreksi sedikitpun.

Energi yang dipancarkan setiap individu dalam shalat berjamaah akan menghasilkan suatu daya yang super besar, di mana nantinya akan terasa cepat pula energi tersebut sampai kepada Tuhan. Bukan hanya itu, pahala shalat berjamaah yang jumlahnya 27 tidak terbatas pada bahasan kontekstual semata, tetapi juga merupakan suatu filosofi yang jika diterapkan pada kehidupan nyata, tentu akan membuat kita semakin semangat untuk mengerjakan segala hal secara bersama.

Filosofi tersebut beririsan dengan teori percepatan yang ada dalam fisika. Bahwa ketika kita memiliki suatu tujuan, maka kita akan berusaha untuk mencoba mempercepat langkah kita guna mencapai  tujuan tersebut. Contoh kecil dari esensi tersebut adalah kerja kelompok, (asal jangan kaya mahasiswa zaman sekarang, kalau kerja kelompok, yang kerja cuman satu, yang lain nyediain gorengan).

Tuhan jelas tidak akan menipu kita, kalau kita bekerja lebih keras, balasanya pun pasti akan setimpal. Kita pun percaya bahwa Tuhan Maha Adil, karena Tuhan merupakan Kausa Prima yang berarti sebab dari segala sebab, dan maha dari segala maha.

Prisip-prinsip inilah yang harus kita pahami bersama, bahwa di balik suatu hal, ada makna begitu dalam yang terkandung. Banyak manusia hidup dalam sebuah realitas yang begitu semu, bagai terjebak dalam suatu gelembung, kita tidak dapat melihat seperti apa realitas yang ada. Maka dari itu, pecahkan gelembung tersebut.