12/31/2015

Seri Resolusi (4) : Pastikan Semua Cita bermuara ke Surga




Pada seri Resolusi yang ketiga kita telah menyimak bagaimana pengakuan khalifah kelima Umar bin Abdul Aziz tentang sejarah rangkaian obsesi dan resolusinya. Dengan kesungguhannya – tentunya atas ijin Allah SWT – ia berhasil menggapainya satu demi satu. Pelajaran pertama dari kisah menarik tersebut telah kita kupas, bagaimana kebolehan obsesi duniawi dengan syarat dan niatan baik tulus terjaga. Kita lanjutkan dengan inspirasi berikutnya dari kisah yang sama.

Kedua, dalam merangkai asa dan cita, berobsesi bahkan berambisi sekalipun tetap saja harus mengukur kemampuan diri, karenanya harus bertahap sesuai dengan kondisi dan kemampuan terkini. Lihat saja bagaimana sang khalifah mulia kelima menyusun cita-citanya dengan begitu bertahap, ketika mendapatkan sesuatu barulah menginginkan yang lebih tinggi dari hal tersebut. Ia tidak langsung menginginkan kekhalifahan, namun mengukur diri dengan melewati amanah menjadi gubernur madinah terlebih dahulu.  Sikap inilah yang akan menjaga semangat kita dalam merangkai asa dan menyusun revolusi.

Jangan sebagaimana yang dikatakan masyarakat jawa sebagai sikap “gege mongso” , yaitu dimana kita menginginkan sesuatu yang jauh diluar kemampuan dan kapasitas diri kita. Impian di siang bolong, khalayan semu atau angan-angan lebih pas disandarkan pada mereka yang menyusun cita tanpa melihat kelayakan dan kondisi pribadi terkini.

Namun sebagai catatan, jika itu terkait doa dan pengharapan kepada Allah SWT, maka tak mengapa saat kita merangkai doa dan meminta banyak hal secara optimal karena sesungguhnya Ia adalah Maha Kaya, setiap permintaan adalah ringan bagi-Nya. Kita simak saja inspirasi seorang nabi Sulaiman as saat berdoa : “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS As-Shood 35). Inspirasi yang sama bisa kita ambil dari pesan Nabi kepada kita saat berdoa : Rasullah SAW:  "Jika kalian memohon kepada Allah SWT maka mintalah pada-Nya surga Firdaus."(HR Ibnu Majah). Sama diketahui  dalam riwayat bahwa Firdaus adalah surga tertinggi, dan saat berdoa kita diperintahkan untuk langsung mentargetkannya.

Ketiga, pelajaran terpenting dalam kisah Umar bin Abdul Azis di atas adalah, betapapun hebat dan tingginya sebuah cita-cita maupun kedudukan, muara kebahagiaan dan prestasi puncak yang dirindukan setiap orang adalah masuk surga dan bertemu Allah SWT dengan keridhoan-Nya. Hal suci lagi mulia adalah sebuah fitrah yang tidak bisa dipungkiri setiap hati mereka yang beriman. Apapun cita-cita dan keinginan kita, jadikanlah ia hanya sebagai sebuah wasilah atau kendaraan menuju surga Allah SWT, lain tidak. Cita-cita sebesar apapun, yang tak ‘ditunggangi’ kepentingan meraih surga pada dasarnya kecil tanpa guna.

Akhirnya, hari-hari awal tahun telah kita tapaki. Mari kembali melihat diri dan merancang cita dengan sepenuh optimisme untuk menggerakkan diri berusaha dan berupaya lebih baik dari sebelumnya. Teruslah bercita dan memperjuangkannya, karena sebagaimana dikatakan oleh sebuah pepatah, bahwa manusia tanpa target dan cita-cita, hakekatnya seperti mayat hidup yang berjalan. Hambar dan menakutkan. Jangan lupa cek kembali resolusi dan cita Anda, apakah ia bermanfaat dunia akhirat, atau hanya sekedar pemuas nafsu diri yang menjauhi ridho-Nya ? Teliti sekali lagi dan pastikan hanya resolusi yang legitimate dunia akhirat saja yang kita perjuangkan dan lantunkan dalam doa. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW mengingatkan : Jika salah seorang dari kalian berangan-angan (obsesi), maka cermatilah apa yang ia inginkan, sesungguhnya ia tidak pernah tahu apa yang ia dapat dari cita-citanya” (HR Ahmad)

Semoga bermanfaat dan salam optimis.