11/10/2015

Tertinggalkan Waktu


Kamar itu masih terang dengan nyala lampu, meski jam dinding telah menunjuk pukul satu. Seorang pemuda duduk termangu, di hadapannya bertumpuk buku-buku. Matanya tampak sayu, meski dia telah menyeruput secangkir minuman telor, susu, plus madu. Pandangannya tertuju pada buku, jari-jari tangannya bergerak ragu-ragu. Mulai membuka dan melahap isi buku, atau nonton pertandingan liga Champions, Wolfsburg versus MU.

Sebenarnya tugas itu diberikan minggu lalu, tetapi selalu saja hatinya berbisik, “Nanti aja dulu.” Setiap kali siap mengerjakan tugas itu, selalu saja ada rintangan yang mengganggu. Teman yang ngajak main kartu, main dadu, main gundu, sampai karaokean ga malu-malu. Belum lagi teman dekat perempuannya yang menanyakan kabar dan ngajak ngobrol tak kenal waktu.

Dia mengeluarkan ponsel dari saku, dan mulai memutar lagu menghilangkan jemu.

Kau terbangun dari tidur panjang yang lelahkanmu
Kau sadari semua yang berjalan telah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekat di khayalmu
Kau harapkan keajaiban datang hadir di pundakmu
Kau harapkan keajaiban melengkapi khayalmu

(Peterpan, Tertinggalkan Waktu)

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan demi aku anakmu

(Iwan Fals, Ibu)

Dia hentikan alunan lagu, wajahnya berubah sendu. Kini berkelebat di hatinya bayangan ibu. Coba saja kalau ibunya tahu dia melalaikan waktu, habis sudah betisnya dihajar sapu. Tapi meski ibunya medidik sekeras batu, dia tahu di hati ibunya ada cinta selalu. Oh, dia sungguh rindu. Ibu.

Satu jam sudah berlalu, malam semakin syahdu. Dia menangis tersedu-sedu. “Apa yang sebenarnya aku tuju? Selama ini aku hanya menghabiskan waktu demi memperjuangkan sesuatu yang semu!” Lalu dia benturkan keningnya ke meja kayu dan kepada dirinya sendiri berseru, “Lihatlah dirimu! Tega kah kau khianati dirimu? Khianati kepercayaan ayah dan ibu? Oh, sungguh jika kau terus seperti itu, tak akan ada orang tua perempuan yang berminat menjadikanmu calon menantu! Kau harus segera melaju! Jadikan hidupmu bermutu, menuju surga yang kau rindu!” [Fey | Kata-Kita]