11/14/2015

Tentang Passion: Mengorbankan atau Mengobarkan Cinta? (1)


Beberapa waktu lalu saya mendengar sedikit bincang-bincang dua orang perempuan. Sebutlah si A dan B. Si A sudah menikah, lulusan D3 Kimia dan pernah mengajar di Sekolah Dasar. Si B sarjana pendidikan yang saat ini belum bekerja, sebelumnya ia bekerja di bimbingan belajar.

A: “…..memang sudah masukkan lamaran kemana saja?”
B: “ya keman-mana, susah ya cari kerja untuk sarjana (S1). Kebanyakan untuk D3, dimana-mana D3.”
A: “bukannya banyakan S1 ya yang banyak dibutuhkan? Makanya aku lanjut S1.”
B: “Ah engga, D3 yang banyak tuh.”
A: “….. nih banyak lowongan ngajar, kamu kan dari jurusan pendidikan.”
B: “yaaaah ngajar, aku pengennya ga ngajar.”
A: “koq? aku malahan pengen ngajar……”

Saya hanya mendengar bagian itu. Nah apa yang kawan-kawan bisa petik dari percakapan singkat di atas? Saya yakin mata kita tak sama dalam melihat sesuatu. Jika pertanyaan itu dibalik untuk saya, maka jawabannya adalah PASSION. Saya menebak bahwa dua orang di atas memiliki passion yang tidak sesuai dengan background pendidikan.

Si A yang dipersiapkan kampusnya untuk menjadi tenaga ahli madya di laboratorium ataupun industri, sedang si B seorang yang diajarkan cara mendidik untuk kemudian menjadi guru. Tapi ternyata mereka tidak ingin bekerja pada bidang-bidang tersebut. Mereka melepaskan background kompetensi yang dipelajari secara formal dan mencari tempat bersemayam passion mereka.

Saya kira mereka pun menemukan passion ketika di kampus atau boleh jadi ketika bekerja untuk pertama kali pasca wisuda. Terbukti dengan ditanggalkanya titel kompetensi yang dimiliki. Kini si A mencari pekerjaan untuk kembali mengajar dan melanjutkan strata pendidikan formal yang lebih tinggi. Si B mencari pekerjaan untuk tidak kembali mengajar. Saya tidak tahu passion sesungguhnya dari si B, tapi yang jelas ia tidak ingin hidup kembali di dunia pengajaran.