11/09/2015

Tak Ada yang Tak Mungkin Jika Kita Mau Berjuang


Kisah nyata ini terjadi di Hongkong..

Sepasang suami istri miskin bernama Charles Chan dan Lee Lee Chan adalah pengungsi perang sipil Tiongkok, yang tinggal di kawasan kumuh Hongkong pada tahun 1954. Sang suami bekerja sebagai kuli. Gajinya sangat kecil.

Saat itu sang istri sudah hamil tua. Karena tidak memiliki uang untuk melakukan operasi caesar yang begitu mahal, maka sang istripun harus menderita untuk menunggu kelahiran bayinya secara normal.

Si bayi tidak juga lahir seperti bayi umumnya. Bayi ini berada dalam kandungan ibunya selama 12 bulan, 3 bulan lebih lama dari kelahiran bayi umumnya.

Namun setelah menunggu hampir satu tahun, tidak ada tanda tanda sang ibu akan melahirkan secara normal. Akhirnya dokter pun memaksa untuk melakukan operasi caesar, demi keselamatan nyawa ibu dan bayinya. Sang ayah yang miskin dengan gajinya yang sangat kecil itu tentunya tidak sanggup untuk membayar biaya operasi kelahiran pjutranya, sehingga terlilit hutang besar pada lintah darat (rentenir).

Karena tidak mampu membayar hutang, maka lintah darat pun mendesak keluarga malang ini untuk segera menjual bayinya, agar bisa menebus hutang-hutangnya. Kesedihan dan ketakutan yang luar biasa merundung orangtua si bayi. Mereka mencoba segala jalan untuk mendapatkan uang. Setelah kesana kemari berjuang mencari uang, singkat cerita akhirnya ada seorang teman yang bersedia membantu melunasi hutang-hutang tersebut dan bayi itu pun bisa diselamatkan.

Untuk membesarkan sang bayi, juga bukan suatu hal yang mudah bagi mereka. Mereka sekeluarga terpaksa tinggal di kawasan miskin di Hong Kong, dengan hidup yang sangat sederhana dan merana.

Kehidupan mereka mulai sedikit membaik, ketika sang ayah mendapat pekerjaan sebagai juru masak di kedutaan Hong Kong di Australia. Pemindahan yang mendadak ke Australia, tentu membawa kerepotan sendiri bagi anaknya yang baru berusia 7 tahun. Anaknya mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sana karena bahasa ibunya yang berbeda. Terpaksa ayahnya mengirimkan balik anaknya ke Hong Kong.

Akan tetapi anak itu bukan dikirim ke sekolah biasa. Ia malah dimasukkan ke Sekolah Opera Peking. Si anak harus menjalankan berbagai latihan berat untuk belajar berbagai keterampilan seperti bernyanyi, menari, berakting dalam opera, akrobatik dan bela diri. Walaupun lelah, ia tetap menyukainya dan merasa betah. Ia baru meninggalkan sekolahnya setelah belajar selama 10 tahun lamanya, dibandingkan anak-anak lain yang hanya belajar 2-3 tahun saja.

Dengan penuh keyakinan, ia mulai terjun ke masyarakat mencari pekerjaan yang membutuhkan keterampilannya. Kebetulan ada seorang produser yang sedang kebingungan mencari pemeran pengganti (stuntman) untuk berbagai adegan berbahaya dalam film. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menerima adegan itu.

Bayi itu bernama Chan Kong-Sang, yang memiliki arti lahir di Hongkong pada 7 April 1954, dan sekarang kita kenal dengan nama Jackie Chan. Ketika kecil, Chan mendapat julukan Pao Pao yang berarti bocah peluru. Bukan tanpa alasan, nama itu diberikan sesuai dengan karakter Chan waktu kecil yang amat lincah.

Dengan kerja keras dan keteguhan hati, Jackie Chan sukses mengubah nasibnya dari seorang remaja miskin menjadi bintang utama yang gemilang. Hampir 100 film telah diperankannya, dan hampir semua mencapai box office. Jackie Chan terkenal sebagai aktor dengan kekayaan lebih dari USD 130 juta.

Ia sering berpesan, "Jangan biarkan keadaan mengendalikanmu. Andalah yang harus mengubah keadaan!"

*Banyak kemungkinan-kemungkinan baik dalam setiap keadaan, bahkan dalam keadaan buruk sekalipun. Andai kata ibu Jackie waktu itu menyerah karena ketidaknormalan kehamilannya, mungkin kita takkan pernah mengenal aktor heroik nan jenaka seperti Jackie Chan. 
[Ki | Kata-Kita]


Disadur dari: www.andriewongso.com