11/11/2015

Kashiba, Peraih Nobel Fisika yang Nilai Fisikanya Jelek


Masatoshi Koshiba lahir di kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926. Waktu remaja Koshiba bercita-cita untuk bergabung dengan sekolah militer (mengikuti jejak ayahnya), atau menjadi seorang musisi (ia senang mendengarkan musik klasik dan membaca novel-novel bersejarah). 

Satu bulan sebelum ia mengikuti ujian masuk sekolah militer, Koshiba terserang penyakit polio yang memaksanya untuk banyak berbaring dan beristirahat. Masa-masa pemulihannya dilalui dengan membaca buku tentang ide-ide besar fisikawan terkenal, Albert Einstein, yang diberikan oleh gurunya. Tetapi keputusannya untuk mendalami fisika justru dipicu oleh kata-kata guru lain yang tidak sengaja didengarnya. Menurut guru itu, Koshiba tidak mungkin bisa mempelajari dan memahami fisika karena nilai-nilainya di mata pelajaran fisika dan matematika itu sangat buruk. Komentar ini menempatkan Koshiba pada kondisi kritis. Dalam kondisi kritis ini terjadilah mestakung (seMESTA menduKUNG) dimana sel-sel dalam tubuhnya bereaksi, hatinya mulai panas dan motivasinya bangkit. Koshiba nekat memilih jurusan fisika di Tokyo University. Ia mau membuktikan pada gurunya bahwa ia mampu menguasai fisika!

Saat pertama kali ia mendaftar di Tokyo University, Koshiba ditolak. Apakah Koshiba menyerah? Tidak! Keinginan untuk melepaskan diri dari “penghinaan” sang guru membuatnya berusaha lebih keras lagi. Dan lihatlah….mestakung terjadi lagi. Usahanya yang pantang menyerah itu pun membuahkan hasil. Koshiba akhirnya diterima di Tokyo University yang merupakan universitas yang sangat bergengsi di Jepang. Kuliah di Tokyo University bukan tanpa tantangan. Koshiba bukan orang kaya, ia harus mencari uang untuk biaya sekolahnya. Ia juga harus membantu orangtuanya. Apakah tantangan ini membuat Koshiba menyerah? Tidak! Kembali terjadi mestakung, secara ajaib ia bisa mendapat pekerjaan dimana ia bisa belajar sambil bekerja. Banyak orang berpikir bahwa dengan kondisi belajar Koshiba seperti itu ia tidak akan lulus, namun nyatanya Koshiba berhasil lulus (1951).

Koshiba kemudian mendaftarkan diri ke University of Rochester, Amerika Serikat, dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya di Tokyo University yang secara jujur menyatakan: His results are not good, but he’s not that stupid. Secara ajaib, lagi-lagi mestakung, ia bisa diterima di University of Rochester dan empat tahun kemudian Koshiba berhasil mendapatkan gelar Ph.D. Luar biasa!

Tidak sampai di situ saja, pemerintah Jepang bahkan mendukung Koshiba untuk melakukan penelitian di bidang neutrino dengan membangun sebuah detektor Kamiokande yang sangat mahal. Melalui detektor ini Koshiba berhasil menemukan neutrino yang membawanya meraih hadiah Nobel Fisika 2002. Koshiba akhirnya bisa menunjukkan pada gurunya bahwa ia mampu belajar fisika!

Fantastic, kalau kita tetap pada sasaran, mestakung akan bekerja memberikan kita hasil-hasil yang fantastic!

Disadur dari www.andriewongso.com

1 komentar :