Kata Kita

Kata Kita

Beauty or The Beast


Perempuan atau betina?

Pernah mendengar istilah “cabe-cabean”? Hehe. Kapan yah tepatnya istilah ini muncul dan ditujukan kepada siapa?

Dari meme di media sosial serta candaan sehari-hari, saya menarik kesimpulan bahwa “gelar” itu diberikan untuk cewe ‘nakal’. Misal, cewe yang naik motor bertiga, pakai celana ketat yang warnanya ngejreng sama seperti warna cabe; merah, hijau, atau kuning.

Dan setelah browse di wikipedia, ternyata, ah sudahlah... kata Babe Cabita.

Istilah ini lucu sih sebenarnya, tapi sekaligus kabar buruk bagi agama dan bangsa.

Apakah sudah sedemikian rendahnya kedudukan perempuan generasi muda saat ini?

Padahal di dalam Islam, perempuan dimuliakan dan merupakan simbol kebaikan kehidupan keluarga dan kehidupan sosial.

Perempuan adalah tiang negara.
Perempuan itu sekolah pertama untuk anak-anaknya.

Tidak ada sekolah atau universitas dengan jurusan istri dan ibu. Tapi dari dalam rumah itulah keajaiban-kejaiban bagi dunia bermula.

Di balik setiap pahlawan hebat selalu ada perempuan agung. Perempuan agung itu bisa satu dari dua, atau kedua-duanya; sang ibu dan atau sang istri.

Memang tidak ada Nabi perempuan, tapi semua Nabi terlahir dari rahim perempuan.

Keajaiban perempuan justru terletak pada kesederhanaannya.
Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang.

Betina
Hanya takut kulitnya menjadi kusam dan gelap
Karena terik sinar matahari menyengat

Perempuan agung
Paling takut jika kulitnya hangus terbakar
Oleh jilatan bara api neraka

Betina
Sibuk sekali mempercantik paras dan tubuhnya
Yang suatu saat akan layu dan renta

Perempuan agung
Sibuk mempercantik akal, hati, dan akhlaknya
Kecantikan abadi yang terpancar selalu dari sorot mata, senyum, dan sikapnya

Betina
Sibuk dengan status dunia dan mengobral perasaan
Memamerkan dirinya kepada seluruh lelaki di dunia

Perempuan agung
Mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan ilmu dan agama
Untuk memberi kontribusi positif bagi peradaban sebagai istri, ibu, dan anggota masyarakat


Beauty or The Beast...

[ Fey I Kata Kita ]

Move 2: Sepanjang Jalan Kenangan


Kuping panas.
Muka memerah.
Hati bergejolak.
Kami, dua bujang yang tersisa dari angkatan di SMP dulu, habis dicecar dengan berbagai pertanyaan yang menyengat hati. "Kapan nyusul?" "Ga inget umur!" "Berdua aja, jangan-jangan..."

Menyebalkan. Kenapa semua orang tiba-tiba jadi seperti reporter dan host infotainment?
Oh, kapankah penderitaan ini akan berakhir?

Setelah makan, kami memutuskan segera pamitan. Jabat tangan dan berdoa untuk mempelai. 'Nyecep'. Sesi poto.

Dua tahun belakangan, rasanya semakin sulit untuk bisa menikmati menu-menu yang tersaji di hajatan. Padahal tadi ada stand ice cream, mie kocok, siomay, zupa-zupa. Mubadzirkan kalau tersisa?

Selama perjalanan pulang Trisna nyetir sambil tak henti bersungut-sungut. "Teman macam apa mereka? Seneng banget ngerusuhin hidup orang. Harusnya kan doakan aja biar bisa cepat nikah! Ga perlu tanya macem-macemlah, sampai bilang jangan-jangan kita ini homo!"

Ah, daripada hati semakin kesal dengar ocehan Trisna, aku putar musik dari hp.

Sial. Tepat ketika kami melaju di rute berangkat dan pulang waktu SMP dulu, lagu ini mengalun dari earphone.

Sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandeng tangan
Bukan. Sepanjang jalan kenangan, kita naik motor boncengan.

Sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra
Bukan. Sepanjang jalan kenangan, sama cowo mana bisa mesra!

Hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu menambah nikmatnya malam syahdu
Bukan. Matahari bersinar terik di siang hari ini, menambah bara panas di hatiku.

Usia bertambah. Tidak punya pasangan. Tidak punya pekerjaan.
Lagi. Ketakutan akan masa depan hadir begitu saja di hati. Penyesalan menyia-nyiakan masa muda yang terhujam dalam.

Hei, aku melihat sosok laki-laki yang dulu sempat lekat dengan hidup kami waktu SMP.
Topi ala seniman lusuhnya. Kaos polo, celana katun, dan sendal cepitnya. Gerobak dorong dan loncengnya. Mang Oding, sang penjual cendol. Tidak ada yang berubah darinya, kecuali uban dan kerut di wajahnya.

Aku suruh Trisna menepi.
"Tadi kan kita tidak sempat mencicipi es krim, cendol seger kayanya mantep deh?"
"Boleh uga!"

Trisna lekat mengamati, "Eh, mang Oding! Kumaha damang mang?" Sadar juga.
Mang Oding menatap kami, "Alhamdulillah sae. Oh, ieu mah si Asep! Nu meli sok nganjuk heula!"
Kami tetawa lebar.

Trisna nama lengkapnya Asep Sutrisna. Waktu SD sih, Trisna tidak ada masalah dengan namanya. Barulah waktu SMP, teman-teman ngebully habis-habisan. Nama yang cocok buat kolot katanya. Makannya dia lebih senang dipanggil Trisna. Kerenan dikit. Malah papan nama di seragamnya juga ditulis Trisna. Karena melanggar peraturan sekolah, Trisna selalu kena razia. Tapi dia tidak mau mengubahnya, malahan nangis ketika ditanya guru. Beruntung wali kelasnya mengerti keadaan Trisna dan meminta keringanan dari pak wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

Kami berbincang-bincang sambil menyeruput cendol. Rasanya tidak berubah. Ternyata, tidak ada perubahan sama sekali dari Mang Oding selama kurang lebih sepuluh tahun ini.

Muncul pertanyaan-pertanyaan di benakku. Apakah mang Oding punya keluarga atau tidak? Sudah setua ini masih berjualan keliling, kemana anak-anaknya? Aku urung menanyakannya, khawatir mungkin akan menyakiti hatinya. Toh, kelihatannya dia tetap senang dengan pekerjaannya.

Muncul lagi pertanyaan di benakku. Dan kali ini pertanyaannya lebih tepat ditujukan kepadaku sendiri! Kenapa tidak ada perubahan selama sepuluh tahun ini? Masih begitu-begitu saja?

Jangan-jangan aku sama dengan mang Oding, bertambah usia tapi tidak bertambah kemajuan sama sekali. Stagnan. Beku untuk berkreasi dan berinovasi.

Tentu akulah yang paling parah.
Mang Oding tidak berkesempatan untuk bersekolah, sementara aku diberi kesempatan sampai perguruan tinggi.
Mang Oding tidak punya banyak pilihan selain berjualan. Sementara aku punya banyak pilihan dan alternatif untuk diambil dan dikembangkan.

Seharusnya hidupku lebih baik. Lebih berarti. Lebih banyak berbagi.
Tapi bagaimanalah hidup akan lebih baik dan berarti jika aku berleha-leha dalam menjalani hari? Apa yang mau dibagi jika aku pun tidak memiliki?

Ini bukan tentang gengsi, apalagi sekedar hitung-hitungan kepemilikan materi.
Tapi ini tentang kehormatan diri.

Pantaskah pemuda sepertiku yang punya fisik dan akal yang sehat, potensi dan bakat, peluang dan kesempatan belajar, dan didukung kemajuan teknologi tidak mengembangkan diri dan berprestasi?

Dadaku bergemuruh.
Aku tidak menyesal melewati jalan kenangan ini. Kesadaranku terketuk lagi...

[ Fey I Kata Kita ]

Aku adalah Hampa



Menakjubkan
Cara-Mu memahamiku
Perlakuan-Mu padaku

Menggetarkan
Peras keringat dinginku
Percepat laju jantungku

Mengalahkan
Angkuh ratakan egoku
Tinggi dan tak tertandingi

Pungutlah Aku
Dari tumpukan sampah
Di pojokan sejarah

Perbarui aku
Agar kembali berdaya
Agar kembali berguna

Tuntunlah aku
Dalam menentukan arah
Dalam mengayuh langkah

Kuatkan aku
Lewati tembok yang menjulang
Melawan arus deras gelombang

Sampaikanlah aku
Memasuki ruang terhomat di surga-Mu
Memandang lekat indah wajah-Mu

Kusungkurkan keningku di pelataran ampun-Mu
Aku adalah hampa
Yang bersinar saat Kau sentuh

Tiap jengkal cinta-Mu meledakkan hatiku
Seakan tak pecaya
Sentuhan-Mu adalah nyata

Aku adalah hampa
Yang bersinar saat Kau sentuh...

***
 [ Fey I Kata Kita ]


Mengenali Diri


"Bertaqwalah kepada Allah menurut ukuran kemampuanmu." (Qs At-Taghabun, 64: 16)

Allah Swt mengetahui pasti keterbatasan kita sebagai manusia, dan dalam keterbatasan itulah Dia inginkan kita berislam. Nabi kita tercinta bersabda, "Allah merahmati orang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya."

Dengan mengetahui kadar kemampuan diri sendiri, kita bisa memposisikan diri secara tepat dalam berbagai situasi kehidupan.

Perintah-perintah dalam Islam itu banyak; menuntut ilmu, ibadah mahdhah, berbakti, berjihad, dan sebagainya. Tidak semua perintah bisa kita lakukan dengan expert, sempurna. Oleh karena itu di surga disediakan banyak pintu, di antaranya ada pintu ibadah puasa, shalat, zakat, dan seterusnya.

Dan karena batas kemampuan itulah mengharuskan kita untuk memilih fokus tertentu dalam kehidupan kita.

Dalam keterbatasan itulah Allah mengatakan, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai sesuai kesanggupannya." (Qs Al-Baqarah, 2: 286)

Hanya saja untuk ibadah-ibadah yng sudah tetap waktunya seperti shalat lima waktu, Allah telah mengukur kemampuan manusia dan pada dasarnya manusia sanggup melakukannya.

Dengan mengenal diri, kemampuan, kekuatan dan kekurangannya, akan membantu kita dalam memposisikan diri dalam karya dan kehidupan sosial.

Mengenl diri juga membantu kita untuk bersifat tawadhu. Tawadhu berarti kemampuan memposisikan diri sewajarnya. Bukan berarti tawadhu itu bahwa kita tidak memiliki apa-apa.

Urusan mengenal diri dan pengembangan diri bukanlah hanya urusan ilmu psikologi. Islam justru sangat menganjurkan dan menekankan masalah ini sejak awal.

Dalam sejarah Islam kita akan menemukan sesuatu yang menarik.
Umar bin Khattab ra memiliki fisik yang besar dan kuat, jago berkelahi dan perang, tetapi tidak pernah sekalipun ditunjuk menjadi pemimpin perang. Mengapa? Karena Umar tidak hanya bisa memimpin pasukan perang, tapi lebih dari itu, dia bisa memimpin  negara, dan untuk itulah dia disiapkan.

To be continue...
***

Referensi: Model Manusia Muslim, Pseona Abad ke-21 by: Matta

[ Fey l Kata Kita ]
Back To Top