Kata Kita

Kata Kita

Are You Ready for Ramadhan


"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Qs Al-Baqarah, 2: 183)


Jamuan Istimewa dari Sang Pencipta


Pernahkah kalian bertanya, kenapa doa sebelum makan ujungnya minta dijauhkan dari api neraka? Apa hubungannya makan dengan api neraka?

Kenapa redaksi doanya tidak seperti ini saja, "Ya Allah, semoga makan saya ini enak, bergizi, dan mengenyangkan!" Tapi justru seperti ini, "Ya Allah berkahilah rezeki yang Kau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari api neraka."

Karena Allah Swt tidak pernah meninggalkan kita meski sekejap mata. Allah selalu mengingatkan kita setiap saat agar tidak terlena dengan kenikmatan dunia. Karena tujuan hidup dan rumah masa depan kita masih di ujung jalan sana, di balik fatamorgana dunia. Negeri akhirat!

Dengan dzikir dan doa, kita senantiasa bisa menyegarkan pikiran dan hati kita baik sebelum, sedang, dan sesudah beraktivitas. Tak terhempas dengan ujian dunia. Tak terbuai dengan pesona dunia.

Dalam sehari ada shalat fardhu lima waktu. Di setiap penggalan hari, Allah memanggil kita untuk mengisi energi jiwa. Memulai hari dengan shalat Subuh. Tengah hari dengan shalat Dzuhur. Menjelang sore dengan shalat Ashar. Menjemput malam dengan shalat Maghrib. Menutup hari dengan shalat Isya.

Dalam setahun, Allah menyediakan satu bulan penuh dengan jamuan teristimewa. Satu bulan yang dipenuhi atmosfer ketaatan dan kebaikan.

Mengingatkan mereka yang lupa.
Menguatkan mereka yang lemah.
Mendidik mereka yang lalai.
Membetulkan kembali kompas perjalanan hidup.


Festival Iman, Cinta, dan Kedamaian


Setiap komunitas manusia, selalu memiliki momen tertentu yang disemarakkan dengan berbagai acara dan kemeriahan. Biasanya bertujuan untuk memperlihatkan dan mengekspresikan budayanya serta menunjukkan kepada dunia keunikan, kekhasan, dan keunggulannya.

Begitupula Islam.
Bulan Ramadhan merupakan festival iman, cinta, dan kedamaian.

Sebulan penuh kaum muslimin dikondisikan untuk meningkatkan iman dan ketakwaannya. Dini hari dihidupkan dengan sahur. Subuh hingga Maghrib dihidupkan dengan puasa. Malam hari dihidupkan dengan shalat tarawih.

Kita yang terbiasa menyalahkan keadaan atas kelemahan atau kesalahan kita sendiri, di bulan Ramadhan, tak bisa berkelit. Karena suasananya begitu kondusif untuk menata ulang diri dengan keimanan. Kemanapun mata memandang. Ke arah manapun kita berjalan.

Akhlak atau tingkah laku juga dijaga dan dikendalikan. Apalah arti semua sujud, doa, dan puasa kita jika kita menyakiti hati orang lain melalui perkataan dan sikap kita.

Selain amalan individu, amalan-amalan sosial pun diberikan ruang dan pahala yang sama besarnya. Memberi orang makan untuk sahur atau berbuka adalah hal yang lumrah yang akan kita saksikan sepanjang Ramadhan.

Karena keshalihan tidak boleh berhenti di diri sendiri. Cinta dan kebaikan harus kita distribusikan kepada orang lain. Kepada lingkungan sekitar kita. Bisa lewat kepedulian, ilmu, nasihat, tenaga, ide, dan tentu saja harta.

Di akhir Ramadhan, ditutup dengan kewajiban berzakat. Tidak boleh ada yang kelaparan, sementara kita kenyang dan dalam kegembiraan.

Pintu silaturahim terbuka lebar. Mengikat kembali hubungan yang mulai renggang. Mendekatkan kembali jiwa dan raga yang bejauhan. Dalam nuansa iman, cinta, dan kedamaian.


Pusat Pelatihan Manusia-Manusia Hebat


Sumber kejahatan dalam masyarakat adalah individu-individu yang jahat. Dan sumber kejahatan dalam diri manusia adalah ketika diri tidak mampu mengandalikan hawa nafsu.
Puasa mengajarkan kita untuk mampu mengendalikan diri (self control).

Dilihat orang atau tidak, kita tetap menjauhkan diri dari makanan dan minuman. Dari hal-hal yang membatalkan. Dari kelakuan-kelakuan buruk yang akan menjatuhkan pahala puasa kita. Selalu merasa diawasi oleh Allah setiap saat.

Hanya dengan pengendalian diri lewat jiwa yang selalu bersama Allah, maka setiap orang akan mampu meningkatkan dan menjaga integritas kepribadiannya.

Tetap berbuat baik meski tak seorang pun melihat. Tetap berkarya meski dalam hening. Tetap berbakti meski sepi tanpa pujian dan tepuk tangan.
Tetap meninggalkan keburukan meski peluangnya terbuka lebar. Tak hanya malu berbuat maksiat dan dosa di keramaian, tapi juga saat sendirian.

Jika individu-individu baik, maka akan menjalar dan terlahirlah masyarakat yang baik. Masyarakat yang saling memperhatikan, mendidik, peduli, dan berbagi.

Adakah alasan bagi kita untuk tidak menyambut Ramadhan dengan gembira?

Don't miss it!
Are you ready for Ramadhan?

[ Fey I Kata Kita ]

Surat Cinta Untuk Semua



Apalagi yang dicari oleh seorang lelaki menjelang usia 40 tahunan?

Hidupnya telah sempurna; istri yang cantik dan setia, anak-anak yang menyejukkan pandangan, rumah yang luas dan nyaman, harta kekayaan yang melimpah, usaha yang mapan, serta nama baik di lingkungan masyarakat.

Tapi lelaki ini masih juga diliputi kegelisahan. Pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan bertubi-tubi menusuk akal dan hatinya? Dia tidak merasa puas dengan apa yang dilihat di sekitarnya.

Mengapa masyarakatnya tertunduk sujud dan memohon kepada patung-patung yang terbuat dari batu? Padahal mereka sendiri yang membuatnya.

Mengapa mereka tega mengubur anak perempuannya hidup-hidup?

Mengapa mereka menghabiskan waktu dan hartanya untuk berjudi, mabuk-mabukkan, dan hura-hura?

Mengapa manusia digolongkan antara bangsawan dan budak? Bukankah mereka sama-sama manusia?

Dia telah mencoba berbuat sesuatu.
Tidak ikut menyembah patung-patung, mendonasikan hartanya untuk membantu anak-anak yatim, janda, dan fakir miskin; bersikap ramah dan lembut pada semua, memuliakan saudara, tamu, dan tetangga; serta jujur dalam berbisnis.

Dia telah mengerahkan semua yang dia bisa, tapi semuanya belum tuntas. Masih ada lubang yang menganga, dan dia harus segera menemukan jawabannya.

Dia kerahkan seluruh daya akal, jiwa, dan fisiknya untuk melakukan perenungan yang dalam.

Akhirnya, pecahlah peristiwa terbesar dalam sejarah umat manusia.

Tuhan Semesta Raya memilihnya sebagai utusan-Nya, memberikannya tugas besar untuk menyampaikan risalah kepada seluruh manusia di dunia tentang hakikat kehidupan.
***

Setiap manusia selalu berusaha mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang menggelisahkan hatinya. Saat detak nurani mengetuk jiwanya. Saat tiba di puncak kesadarannya.

Namun bagaimana bila seluruh hasil perasan intelektual, semua penemuan dan teknologi tak sanggup menjawabnya? Tak ada satu pun manusia di dunia, sepintar apapun, secerdas apapun, mampu merumuskannya.

Darimana kita berasal? Untuk apa kita hidup? Kemanakah akhirnya?

Akal seperti mata bagi tubuh manusia. Sesehat apapun mata itu, tak akan mampu melihat dengan baik dan jelas tanpa cahaya. Akal membutuhkan cahaya, dan cahaya itu adalah wahyu dari Sang Pencipta.

Karena Sang Penciptalah yang paling mengerti tentang ciptaan-Nya. Apa yang baik dan yang buruk untuknya. Apa yang memuliakan dan yang menghancurkan kehidupannya.

Dia tak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya merangkak di kegelapan bumi. Dia tak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya meski hanya sekejap mata.

Dia telah mengirimkan surat cinta untuk semuaAl-Qur’an.

Ada cinta di setiap jengkal kata
Ada kilau cahaya di ujung makna
Ada kesejukan menyusup jiwa
Ada kekuatan gemuruhkan dada
Ada kemenangan di balik fana


[ Fey I Kata Kita ]

Pemeran Utama


"Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya." (Qs Al-Mudatstsir, 74: 38)
Waktu kecil, anak laki-laki pasti pernah bermimpi jadi pahlawan super yang bisa menyelamatkan dunia. Jadi Super Saiya-nya Dragon Ball. Pakai sarung di punggung jadi Superman. Atau berebut siapa yang jadi Rangers merah.

Anak perempuan juga pernah bermimpi menjadi permaisuri cantik, yang menunggu diselamatkan oleh pangeran supercute dan kaya. Atau bertemu dengan cowo rese-jutek tapi 'ngangenin', dan ujungnya jatuh cinta.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak; di relung hati kita yang terdalam, kita selalu berharap bisa menjadi pemeran utama dalam sebuah kisah. Menjadi pusat dari jalannya sebuah cerita.

Kita bisa buktikan itu dari isi atau konten yang berserakan di media sosial. Medsos memberikan kemudahan dan keluasan tanpa batas untuk setiap orang menceritakan dan mengekspresikan dirinya. Banyak hal yang sangat privat, malah tak penting atau tak pantas 'dishare' di dunia maya. Seolah setiap orang bilang, "This is me!", "Akulah sang tokoh utama!"

Sejatinya, dalam kehidupan nyata, kita sendirilah pemeran utama hidup kita. Karena kelak, kita akan berhadapan dengan Tuhan secara individual. Kita akan mempertanggungjawabkan hidup kita sendiri di pengadilan-Nya.

Penulis cerita kehidupan ini adalah Sang Pembuat Skenario Semesta.
Setiap diri memiliki kisahnya sendiri.
Setiap orang punya peluang dan potensinya sendiri.
Setiap jiwa punya kesempatan membuat legendanya sendiri. Dan "piala Oscar" kehidupan akan kita dapatkan di surga-Nya kelak.

Dalam novel atau film, tokoh utama bisa berubah jadi lebih baik, bisa menyelesaikan masalah dan tantangannya hanya dengan beberapa halaman atau beberapa episode.

Sementara kita di kehidupan nyata, berproses memperbaiki diri, menyelesikan masalah dan tantangan, mempersembahkan yang terbaik untuk kehidupan, butuh waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sepanjang hayat.

So, lebih keren mana? Khayalan atau nyata? Kisah picisan atau cerita kehidupan?
Yakinlah, bahwa cerita hidup kita jauh lebih keren daripada cerita-cerita di dalam novel atau film!

Kaulah Pemeran Utamanya!

[ Fey I Kata Kita ]

Beauty or The Beast


Perempuan atau betina?

Pernah mendengar istilah “cabe-cabean”? Hehe. Kapan yah tepatnya istilah ini muncul dan ditujukan kepada siapa?

Dari meme di media sosial serta candaan sehari-hari, saya menarik kesimpulan bahwa “gelar” itu diberikan untuk cewe ‘nakal’. Misal, cewe yang naik motor bertiga, pakai celana ketat yang warnanya ngejreng sama seperti warna cabe; merah, hijau, atau kuning.

Dan setelah browse di wikipedia, ternyata, ah sudahlah... kata Babe Cabita.

Istilah ini lucu sih sebenarnya, tapi sekaligus kabar buruk bagi agama dan bangsa.

Apakah sudah sedemikian rendahnya kedudukan perempuan generasi muda saat ini?

Padahal di dalam Islam, perempuan dimuliakan dan merupakan simbol kebaikan kehidupan keluarga dan kehidupan sosial.

Perempuan adalah tiang negara.
Perempuan itu sekolah pertama untuk anak-anaknya.

Tidak ada sekolah atau universitas dengan jurusan istri dan ibu. Tapi dari dalam rumah itulah keajaiban-kejaiban bagi dunia bermula.

Di balik setiap pahlawan hebat selalu ada perempuan agung. Perempuan agung itu bisa satu dari dua, atau kedua-duanya; sang ibu dan atau sang istri.

Memang tidak ada Nabi perempuan, tapi semua Nabi terlahir dari rahim perempuan.

Keajaiban perempuan justru terletak pada kesederhanaannya.
Kesederhanaan yang sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang.

Betina
Hanya takut kulitnya menjadi kusam dan gelap
Karena terik sinar matahari menyengat

Perempuan agung
Paling takut jika kulitnya hangus terbakar
Oleh jilatan bara api neraka

Betina
Sibuk sekali mempercantik paras dan tubuhnya
Yang suatu saat akan layu dan renta

Perempuan agung
Sibuk mempercantik akal, hati, dan akhlaknya
Kecantikan abadi yang terpancar selalu dari sorot mata, senyum, dan sikapnya

Betina
Sibuk dengan status dunia dan mengobral perasaan
Memamerkan dirinya kepada seluruh lelaki di dunia

Perempuan agung
Mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan ilmu dan agama
Untuk memberi kontribusi positif bagi peradaban sebagai istri, ibu, dan anggota masyarakat


Beauty or The Beast...

[ Fey I Kata Kita ]
Back To Top