Kata Kita

Kata Kita

Mengenali Diri


"Bertaqwalah kepada Allah menurut ukuran kemampuanmu." (Qs At-Taghabun, 64: 16)

Allah Swt mengetahui pasti keterbatasan kita sebagai manusia, dan dalam keterbatasan itulah Dia inginkan kita berislam. Nabi kita tercinta bersabda, "Allah merahmati orang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya."

Dengan mengetahui kadar kemampuan diri sendiri, kita bisa memposisikan diri secara tepat dalam berbagai situasi kehidupan.

Perintah-perintah dalam Islam itu banyak; menuntut ilmu, ibadah mahdhah, berbakti, berjihad, dan sebagainya. Tidak semua perintah bisa kita lakukan dengan expert, sempurna. Oleh karena itu di surga disediakan banyak pintu, di antaranya ada pintu ibadah puasa, shalat, zakat, dan seterusnya.

Dan karena batas kemampuan itulah mengharuskan kita untuk memilih fokus tertentu dalam kehidupan kita.

Dalam keterbatasan itulah Allah mengatakan, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai sesuai kesanggupannya." (Qs Al-Baqarah, 2: 286)

Hanya saja untuk ibadah-ibadah yng sudah tetap waktunya seperti shalat lima waktu, Allah telah mengukur kemampuan manusia dan pada dasarnya manusia sanggup melakukannya.

Dengan mengenal diri, kemampuan, kekuatan dan kekurangannya, akan membantu kita dalam memposisikan diri dalam karya dan kehidupan sosial.

Mengenl diri juga membantu kita untuk bersifat tawadhu. Tawadhu berarti kemampuan memposisikan diri sewajarnya. Bukan berarti tawadhu itu bahwa kita tidak memiliki apa-apa.

Urusan mengenal diri dan pengembangan diri bukanlah hanya urusan ilmu psikologi. Islam justru sangat menganjurkan dan menekankan masalah ini sejak awal.

Dalam sejarah Islam kita akan menemukan sesuatu yang menarik.
Umar bin Khattab ra memiliki fisik yang besar dan kuat, jago berkelahi dan perang, tetapi tidak pernah sekalipun ditunjuk menjadi pemimpin perang. Mengapa? Karena Umar tidak hanya bisa memimpin pasukan perang, tapi lebih dari itu, dia bisa memimpin  negara, dan untuk itulah dia disiapkan.

To be continue...
***

Referensi: Model Manusia Muslim, Pseona Abad ke-21 by: Matta

[ Fey l Kata Kita ]

Jika Esok Tiada Lagi



Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes
(Ronan Keating)

Tema klasik namun seringkali diangkat menjadi cerita dalam film atau sinetron, yaitu tokoh utamanya tidak punya banyak waktu lagi. Tidak tahu apakah besok masih ada atau harus pergi. Biasanya karena dia menderita sakit parah.
Di akhir cerita, sang tokoh meninggal dengan menyisakan rahasia dan kenangan yang manis.

Sang tokoh menyembunyikan rasa sukanya pada seseorang karena tahu dia tak akan hidup lama. Dia menyalurkan perasaannya dengan berbuat baik secara diam-diam dan perlahan, tapi tingkah dan tampak luarnya seolah-olah biasa saja, tidak peduli, bahkan sering digambarkan jutek.

Walaupun tentu alur cerita model seperti ini sangat mudah ditebak, tapi tetap sanggup menyayat hati penonton dan memaksa menumpahkan air mata. Yah begitulah hati manusia.

Sesungguhnya, di kehidupan nyata, bukankah kita semua punya kemiripan dengan tokoh utama cerita itu? Kita sama-sama tidak tahu kapan hidup kita akan berakhir. Kita tidak tahu kapan Allah Swt memanggil kita untuk pulang. Kita tidak pernah tahu, esok hari masih ada atau tiada.

Dengan cara pandang seperti itu, maka setiap detik waktu yang kita miliki menjadi sangat berharga, yang tidak boleh berlalu begitu saja. Setiap kesempatan bernafas menjadi sangat berarti, karena detik yang berlalu takkan pernah kembali.

Bukankah salah satu musuh terbesar dalam hidup kita untuk sukses dan bahagia adalah rasa malas? Yang seringkali sanggup menahan langkah kaki kita. Memberi kenyaman untuk leha dan menunda-nunda. Karena kita merasa masih punya banyak waktu dan kesempatan.

Jika esok tiada lagi.
Apakah bumi akan menangisi atau malah mensyukuri lega?
Jika esok tiada lagi.
Apakah orang-orang akan sedih kehilangan atau justru bahagia?
Jika esok tiada lagi.
Apakah surga dan senyum-Nya telah menanti atau nyala neraka?

Mulai hari ini, cobalah kawan untuk memandang hidup dengan cara seperti itu! Maka tak ada alasan bagi kita untuk melewatkan setiap detik dan kesempatan dengan sia-sia.

Jalani harimu dengan sepenuh hati, segenap jiwa.
Isi detikmu dengan kebaikan dan perjuangan.

Rebutlah kerelaan dan cinta Sang Maha Cinta.
Tinggalkanlah kenangan yang berharga.
Wariskanlah karya yang menyejarah.

Tuliskanlah namamu dalam lembaran putih orang-orang yang kau cintai, karena boleh jadi, esok tiada lagi...

[Fey l Kata Kita]

Lelaki 1/4 Abad



Seperempat abad.

Pada usia ini, Mark Zuckeberg telah menjadi salah satu miliarder termuda di dunia dengan jejaring sosial yang dirintisnya.

Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi masing-masing telah meraih penghargaan pemain sepak bola terbaik sejagad.

Muhammad bin Abdullah meminang Khadijah dengan mas kawin 20 unta merah, yang jika dikonversikan ke masa sekarang sama dengan 20 unit mobil mewah atau sekitaran 6 milyar rupiah.

Sementara aku, menyedihkan!

Setelah lulus di masa “injury time” dengan babak belur dan cedera otak yang serius, dua tahun ini aku hanya kerja serabutan. Mulai dari jaga warnet sampai kuli bangunan.

Sekarang, aku sedang duduk menunggu di garasi ditemani motor bebek temanku yang sedang dandan. Kita mau berangkat bareng ke nikahan teman satu angkatan dulu di SMP.

Nasib temanku ini jangan tanya, sama mengkhawatirkannya. Kuliah dua belas semester dan belum lulus! Ini tahun terakhirnya untuk menyelesaikan skripsinya, jika tidak, drop out!

Kalau begini, bagaimana mungkin kami berani mendekati perempuan apalagi meminangnya? Bagaimanalah kami siap bertanggungjawab membawa anak gadis orang? Bagaimana bisa orang tuanya memberi kepercayaan untuk kami bisa memimpin anaknya? Hidup sendiri juga berantakan.

Aku menghela nafas panjang.

Dulu, waktu kecil aku berharap segera besar dan berhak mendapat kebebasan. Kebebasan untuk memilih jalan hidup, tanpa ada intervensi dari orang tua. Tapi setelah kebebasan itu aku dapatkan, justru hidupku semakin kacau.

Dulu, aku benci dikomentari apalagi jika diomeli oleh mamah. Mulai dari bangun tidur, mengingatkan shalat subuh, mempersiapkan perlengkapan untuk sekolah, kerapihan kamar, hingga hal sepele seperti waktu makan.

Sekarang aku mengerti, bahwa kebebasan harus disertai tanggung jawab. Karena setiap pilihan apa pun dalam hidup pasti ada resiko dan konsekuensinya. Kebebasan tanpa tanggung jawab seperti anak remaja diberi motor balap. Seenaknya mengemudikan dan merasa paling gaya, tapi lupa diri dan akhirnya mencelakakannya.

Kini aku juga sadari, manusia selalu butuh pengingat dan penguat. Itulah mengapa Tuhan mewajibkan ibadah-ibadah. Untuk mengingatkan manusia bahwa dunia bukanlah segalanya. Tujuan hidupnya masih jauh di balik fatamorgana dunia ini. Untuk menguatkan jiwa manusia, agar selalu tegar menghadapi segala ujian dan tantangan dalam hidupnya.

Aku terjebak dalam kebebasan tanpa arah. Aku terjerat dalam kenyamanan tanpa makna. Aku relakan umurku digerogoti usia tanpa berbuat apa-apa, tanpa persembahan terbaik sepenuh jiwa.

Aku sungguh menyesal.

Hei! Tapi di usia ini, Umar bin Khattab belum masuk Islam dan masih jadi salah satu musuh terbesar Nabi Muhammad saw.

Jamie Vardy masih main di tim gurem yang tak seorang pun mengenalnya.

Bill Gates di drop out dari kampusnya.

Karena memang, tak ada kata terlambat untuk berubah.

Tak ada kata terlalu tua untuk jadi manusia yang lebih baik.

Ah, saat ini memang hanya itulah yang kami punya. Harapan. Keinginan untuk menjadi lebih baik. Belajar dari masa lalu dan berusaha tak jatuh ke jurang yang sama. Siapapun dan apapun di dunia tak boleh ada yang merebutnya dari hati kami. Ini belum usai!

“Oi! Senyum-senyum sendiri.” Trisna membuyarkan lamunanku. Dia telah selesai dandan. Gayanya keren sih, mungkin bisa menarik pandangan cewe single di kondangan nanti.

“Pertanyaan itu pasti muncul lagi lho! Kau sudah mempersiapkan jawabannya?” Tanyaku.

“Pertanyaan apa? Nih helmnya!” Trisna pura-pura bego.

“Apa lagi kalau bukan kapan nyusul!?”

“Hmmm, ga akan aku jawab! Tapi bakalan aku laporkan ke polisi!” Dahiku berkerut. “Pasal 5 KUHP, perbuatan tidak menyenangkan!”


Kami tertawa.

[ Fey I Kata Kita ]

Jadi Apa yang Allah Inginkan (final chapter)


Model Manusia Muslim

Tugas kita sebagai seorang muslim adalah mempertemukan antara kehendak Allah dengan kehendak kita. Menautkan antara keinginan Allah dengan keunikan pribadi dan kemampuan kita sebagai manusia.

Rumusan kehendak Allah telah kita temukan secara ringkas dalam surat Al-Asr, yaitu: beriman dan beramal shalih, serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.

Dari rumusan kehendak atau keinginan Allah itu, kita dapat mendesain model kepribadian manusia, atau kita sebut model manusia Muslim.

Model manusia Muslim yang dikehendaki oleh Allah adalah orang yang memiliki tiga kualifikasi atau tiga kekuatan dalam dirinya, yaitu: kekuatan pribadi, kekuatan sosial, dan kekuatan profesi.


1. Kekuatan Pribadi

Langkah awal dimana seorang muslim bisa menapaki jalan menuju keridoan Allah dan menyejarah adalah dengan menguatkan komitmennya kepada Islam. Memahami dengan baik mengapa memilih Islam sebagai agama dan jalan hidup.

Kita, umat Islam, umumnya menerima Islam sebagai “warisan sosial”, bukan sebagai suatu pilihan hidup yang kita putuskan melalui proses pemahaman, pengetahuan, dan keyakinan.
Itulah sebabnya Islam tidak menjadi cahaya yang mencerahkan akal kita, atau api yang melahirkan gelora jiwa kita, atau gelombang yang menciptakan dinamika hidup kita.

Maka, kita membentuk diri kita dengan iman dan amal shalih.

Iman adalah pengetahuan dan keyakinan tentang Allah dan kebenaran-kebenaran yang diturunkan-Nya. Tidak ada artinya pengetahuan bila tidak berujung dengan keyakinan. Akan tetapi, keyakinan tidak dapat dibangun tanpa dasar pengetahuan.

Adapun amal shalih adalah pembuktian terhadap pengetahuan dan keyakinan tersebut melalui tindakan dan perilaku nyata dalam keseharian. Terus bergerak menyempurnakan diri dari waktu ke waktu.

Dengan itulah kita membangun kekuatan pribadi.


2. Kekuatan Sosial

Akan tetapi, Allah tidak menginginkan seorang Muslim berhenti pada kesempurnaan pribadinya saja. Ia harus melangkah lebih jauh, menuju masyarakat.

Menjadi partisipan kebajikan yang aktif, serta menjadi distributor kebaikan dan rahmat yang gesit, melalui kegiatan saling berwasiat kepada kebenaran dan kesabaran.

Hal tersebut mengharuskan seorang muslim melebur dengan masyarakatnya. Ia harus berintegrasi, bekerjasama, dan bersinergi dengan mereka dalam mendukung semua proyek kebajikan, dan melawan semua proyek kerusakan. Menjadi faktor perekat dan pembawa manfaat dalam masyarakat.

Menegakkan kehidupan yang bersih, adil dan makmur. Kehidupan yang dipenuhi cahaya langit dan berkah bumi, kedamaian jiwa dan kemakmuran materi.

Lingkungan masyarakat itu dimulai dari rumahnya, keluarga; lalu tetangga, sahabat, komunitas, organisasi, lingkungan kerja, negara, serta dunia.

Sampai di sini, seorang muslim telah melengkapi kesempurnaan pribadinya dengan kesempurnaan sosial.


3. Kekuatan Profesi

Tetapi dalam proses partisipasi itu, kita tidak dapat menjadi segalanya dan tidak akan pernah sanggup melakukan segalanya. Kemampuan kita terbatas.

Oleh karena itu, kita harus menggali untuk menemukan bidang spesialisasi ilmu atau profesi yang kita yakini dapat menjadi expert dan unggul. Kita memilih peran yang tepat, sesuai kompetensi atau kemampuan inti kita. Kita harus tahu dimana letak kekuatan kita.

Yang dengannya, kita memberikan karya terbaik sebagai persembahan setulus-tulusnya kepada Islam dan masyarakat.

Katakanlah, tiap-tiap orang bekerja menurut keadaan (diri)nya masing-masing.” (Qs Al-Isra: 84)

Setiap orang dimudahkan melakukan sesuatu yang untuknya ia diciptakan.” (Hr Muslim)

Kontribusi itu dapat kita berikan dalam berbagai bidang; pemikiran, kepemimpinan, profesionalisme, finansial, dan yang lainnya. 
***

Manusia dengan gabungan tiga kekuatan tersebut, pastilah menjadi manusia-manusia cemerlang yang dicintai Allah dan dirindukan oleh masyarakat. Manusia yang akan menjadi bagian solusi dari badai masalah yang dihadapi umat manusia saat ini.

Jadilah apa yang Allah inginkan!
***
Referensi: Delapan Mata Air Kecemerlangan by Anis Matta
[ Fey I Kata Kita ]


Back To Top